Berbagi informasi, tips, cerita, pengetahuan, harapan, ide, dan lainnya.

Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

12 Februari 2026

Unsur-Unsur Intrinsik Cerita



Unsur intrinsik adalah unsur yang terbentuk dari dalam cerita itu sendiri. Unsur intrinsik juga bisa disebut sebagai unsur pembangun dari dalam cerita. Agar cerita yang dibuat menarik dan mudah dipahami oleh pembaca, unsur intrinsik ini tidak boleh dilewatkan.

Terdapat tujuh macam unsur intrinsik dalam cerpen, yaitu tema, tokoh dan penokohan, latar, alur, sudut pandang, amanat, dan gaya bahasa. Untuk penjelasan lebih lengkapnya, langsung saja kita simak bersama-sama, ya.


1. Tema

Unsur intrinsik cerpen yang pertama adalah tema cerita. Tema adalah gagasan utama yang ingin disampaikan pengarang dalam cerpen. Bisa dikatakan, tema ini adalah nyawa dari sebuah cerita. Kenapa? Karena tema akan menentukan latar belakang cerita tersebut. 

 


2. Tokoh dan penokohan

Tokoh merupakan pelaku dalam sebuah cerita. Tokoh terbagi atas tokoh utama dan tokoh tambahan.

  • Tokoh utama merupakan tokoh yang melakukan interaksi secara langsung atau terlibat dalam konflik.
  • Tokoh tambahan merupakan tokoh yang hanya diungkapkan dalam cerpen tanpa adanya interaksi yang dilakukan tokoh atau tokoh yang tidak terlibat dalam konflik.

 

Sementara itu, penokohan merupakan watak atau karakter tokoh yang terdapat dalam sebuah cerita. Dalam menentukan karakter sebuah tokoh, kita bisa membaginya menjadi beberapa macam, di antaranya tokoh protagonis, antagonis, tritagonis, dan figuran.

Contohnya, tokoh Bandung Bondowoso dalam cerita Roro Jonggrang yang termasuk tokoh antagonis karena memiliki watak kejam, semena-mena, dan suka memerintah.


3. Latar

Macam-macam unsur intrinsik selanjutnya adalah latar. Latar merupakan gambaran tempat, waktu, dan suasana cerpen. Melalui latar ini, kita jadi lebih mudah membayangkan situasi dan kondisi yang dialami oleh para tokoh. 

  • Latar tempat menjelaskan di mana kejadian atau peristiwa dalam cerpen terjadi.
  • Latar waktu menjelaskan kapan kejadian atau peristiwa dalam cerpen terjadi.
  • Latar suasana menjelaskan gambaran suasana dalam sebuah cerpen.

 

4. Alur dan plot

Alur adalah rangkaian kronologi peristiwa dalam cerita pendek. Kemudian, alur dibedakan menjadi alur maju, alur mundur, dan alur campuran.

  • Alur maju adalah cerpen dengan peristiwa yang disajikan secara kronologis atau sesuai dengan urutan waktu dari awal ke akhir.
  • Alur mundur adalah cerpen dengan peristiwa yang dimulai dari akhir cerita ke awal cerita. Alur mundur disebut juga dengan istilah kilas balik.
  • Alur campuran adalah alur cerpen yang merupakan gabungan antara alur maju dan alur mundur. Jadi, rangkaian peristiwanya melompat-lompat antara peristiwa masa lalu dengan masa kini.

 

Sementara itu, plot merupakan gambaran peristiwa yang mengandung hubungan sebab akibat.


5. Sudut pandang

Sudut pandang berisi pandangan pengarang terhadap cerpen, bisa aja pengarang menjadi orang pertama atau orang ketiga.

  • Sudut pandang orang pertama adalah pengarang terlibat langsung atau orang pertama dalam cerita yang ditandai dengan penggunaan kata ganti orang aku, saya, dan sebagainya.
  • Sudut pandang orang ketiga adalah pengarang tidak terlibat langsung dalam cerita yang ditandai dengan penggunaan kata ganti orang seperti dia, mereka, dan sebagainya atau menggunakan nama tokoh. Sudut pandang orang ketiga terbagi atas orang ketiga terarah dan orang ketiga serba tahu.

 

6. Amanat

Amanat merupakan pesan moral yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca melalui cerpen. Misalnya, cerita Malin Kundang yang memiliki amanat tidak boleh durhaka kepada ibu.


7. Gaya bahasa

Saat membaca beberapa cerpen, kamu pasti menemukan pembawaan yang berbeda dari setiap cerita. Setiap cerpen punya dialog atau naskah yang memiliki style atau gaya bahasa yang berbeda-beda. Ini tergantung dari tema cerpen yang ditulis. Nah, gaya bahasa cerpen berfungsi untuk memberikan kesan yang lebih menarik. Umumnya, dengan menggunakan majas.

Beberapa gaya bahasa yang biasa digunakan dalam cerpen, di antaranya:

  • Personifikasi, mengumpamakan benda mati sebagai manusia. Contoh: wajahmu merona bagai senja yang berpesta warna.
  • Metafora, membandingkan kata yang bukan sebagai arti sebenarnya. Contoh: tulang punggung, murah tangan, murah senyum, rendah hati, dsb.
  • Hiperbola, ucapan atau gambaran yang melebih-lebihkan suatu kondisi. Contoh: gedung pencakar langit, menangis darah, berlari secepat kilat, dsb.
  • Litotes, gaya bahasa yang bertujuan untuk merendah. Contoh: “Maaf hidangannya hanya segini, silakan dinikmati ala kadarnya”, “Bantuan ini tidak seberapa, tolong diterima”, dsb.
  • Simile, menggambarkan suatu kondisi dengan membandingkan satu hal dengan hal lainnya dalam satu kalimat. Contoh: kasih sayang ibu ibarat sedalam lautan, wajahnya merona layaknya bunga mawar yang elok, dsb.


*****


Share:

4 Februari 2026

Literasi Budaya : Menghidupkan Kembali Cerita Rakyat/Daerah


 


Literasi Budaya : Menghidupkan Cerita Daerah/Rakyat

Di zaman sekarang, budaya dari luar negeri (seperti tren media sosial, film, atau musik mancanegara) masuk ke Indonesia dengan sangat cepat. Ditambah lagi, kehidupan di kota besar yang serba modern sering membuat kita lupa pada tradisi sendiri. Akibatnya, banyak anak muda yang mulai asing dengan budaya aslinya. Agar identitas bangsa tetap kokoh, kita perlu meningkatkan literasi budaya.

Apa Itu Literasi Budaya?

Literasi budaya bukan cuma sekadar tahu nama tarian atau baju daerah. Literasi budaya adalah kemampuan kita untuk memahami, menghargai, dan bangga terhadap identitas bangsa. Ini seperti mengenal "akar" kita sendiri; kalau akarnya kuat, kita tidak akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh luar.Salah satu cara paling seru untuk melatih literasi budaya adalah dengan akrab kembali dengan cerita rakyat atau cerita daerah.

Contoh nyata dalam meningkatkan literasi budaya adalah dengan menghidupkan kembali cerita rakyat. Kamu bisa menjadi "pahlawan budaya" melalui langkah-langkah sederhana, dimulai dengan meluangkan waktu untuk membaca berbagai legenda atau dongeng nusantara, seperti kisah Malin Kundang, Roro Jonggrang, atau Lutung Kasarung.




Namun, jangan hanya sekadar membaca; cobalah untuk menganalisis dan merefleksikan isinya dengan memikirkan apa pesan moralnya, mengapa tokoh tersebut bertindak demikian, serta apa hubungannya dengan kehidupan kita saat ini. Setelah memahami maknanya, bagikanlah cerita tersebut dengan bahasamu sendiri, baik dengan bercerita langsung di depan kelas, menulisnya di blog, maupun mengemasnya menjadi konten video yang menarik. Dengan menceritakan ulang, kamu secara aktif telah membantu menjaga agar warisan budaya tersebut tetap hidup dan tidak terlupakan.



Selain melalui cerita, kita juga dapat memperkuat identitas bangsa dengan melakukan berbagai aksi nyata dan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Kamu bisa terlibat langsung dalam kegiatan positif seperti mengikuti festival budaya, lomba kesenian tradisional, atau belajar membuat kerajinan tangan khas daerah. Di sisi lain, penggunaan teknologi digital juga sangat efektif untuk melestarikan budaya di mata generasi muda. Dengan menciptakan konten kreatif seperti video, musik, atau animasi bertema budaya lokal, kamu bisa menarik minat teman-teman sebaya untuk lebih mengenal dan mencintai kekayaan warisan bangsa sendiri.

Mengapa Ini Penting?

Literasi budaya adalah investasi jangka panjang. Kalau paham akar budaya bangsa, maka kita akan punya rasa bangga yang tinggi sebagai orang Indonesia. Selain itu, kita jadi lebih menghargai perbedaan, sehingga hidup  menjadi lebih rukun dan toleran.

Share:

13 Agustus 2020

Daeng Soetigna, Pahlawan Sunda Penggagas Angklung Diatonis


Siapa yang tak mengenal angklung? Hampir seluruh orang Indonesia tahu tentang angklung, minimal pernah mendengar atau melihatnya. Jenis alat musik tradisional di Indonesia ini memang sudah terkenal bahkan sampai ke mancanegara. Sekarang pun telah banyak orang yang belajar memainkan alat musik yang hanya bisa berbunyi dengan cara menggoyangkannya. Perpaduan suara merdu yang dihasilkan dari benturan antar bambu, membuat alat musik khas Jawa Barat ini mampu menghipnotis para penikmatnya.

Dalam catatan sejarah dan literatur, disebutkan banyak tokoh yang berjasa dalam kesenian musik angklung. Baik sebagai pembuat maupun sebagai tokoh yang menyebarluaskannya. Salah satu tokoh angklung adalah (Alm) Mang Udjo yang berasal dari Jawa Barat. Peninggalan beliau dikenal dengan nama Saung Angklung Udjo.

Musik angklung pada awalnya mempunyai nada salendro dan pelog (pentatonis) yang merupakan khas kesenian Sunda. Namun dalam perkembangannya, angklung ternyata juga bisa menghasilkan nada diatonik (do, re, mi) sehingga dapat digunakan untuk membawakan musik-musik internasional. Salah satu tokoh yang berjasa dalam perkembangan musik angklung adalah Daeng Soetigna (dibaca Sutigna-EYD). Beliaulah yang mengkreasikan angklung dari nada Sunda ke nada diatonis.

Biografi Singkat

Nama lengkap Daeng Sutigna adalah Mas Daeng Soetigna, lahir di Garut pada 13 Mei 1908. Beliau merupakan anak keturunan bangsawan Sunda, oleh karena itu Daeng Soetigna berkesempatan mengenyam pendidikan zaman Belanda yang kala itu masih sangat terbatas bagi kalangan pribumi. 

Nama "Daeng" konon diberikan oleh orang tuanya karena sang ayah mempunyai sahabat yang pandai, dan sahabat ayahnya tersebut berasal dari daerah Makassar yang mempunyai gelar "Daeng". Dari hal itulah, ibunda beliau mengusulkan nama "Daeng" dengan harapan tumbuh menjadi orang yang pandai.

Riwayat Pendidikan

Daeng Soetigna menamatkan pendidikan HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Garut pada tahun 1921, kemudian melanjutkan ke Sekolah Raja (Kweekschool) Bandung pada tahun 1922 dan lulus tahun 1928 saat  Kweekscholl telah diubah namanya menjadi HIK (Hollands Islandsche Kweekschool). Setelah selesai menyelesaikan pendidikannya, Daeng berkesempatan menjadi seorang pengajar. Beliau pernah mengajar di Schakelschool Cianjur pada tahun 1928, pernah juga mengajar di HIS Kuningan pada tahun 1931. Ketika mengajar di HIS itulah, Daeng Soetigna mendalami keseniang angklung karena beliau memang sangat menggemarinya. 

Daeng sempat juga mengikuti kursus B-1 (setara D-3) pada tahun 1954, dan berhasil lulus ujian akhir. Namun Pak Daeng tidak mendapat ijazah Diploma, karena menurut panitia dia tidak berhak. Setelah itu, pada tahun 1955, ia dikirim bersekolah di Teacher's College Australia sebagai salah satu kontingen dalam program Colombo Plan.

Sejarah Singkat Angklung Diatonis

Pada suatu hari di tahun 1938, ada dua pengemis yang datang ke rumah Daeng Soetigna. Mereka memainkan alat musik angklung dengan nada pentatonis (da, mi, na, ti, la, da). Hati Daeng merasa bergetar mendengar permainan musik tersebut, sampai-sampai beliau membeli angklung pentatonis tersebut. Setelah beliau memiliki angklung tersebut timbullah keinginannya untuk membuat angklung diatonis. Namun beliau merasa tidak bisa membuat angklung, sehingga beliau mulai belajar kepada pakar angklung yang ada di daerahnya. Setelah sekian lama belajar, akhirnya beliau dapat membuat angklung diatonis. Kemampuan beliau dalam berkreasi angklung diatonis tak lepas dari kepiawaiannya memainkan alat musik gitar dan piano.
Hasil dari kerja kerasnya pun membuahkan hasil. Angklung diatonis ciptaan Daeng mulai dikenal masayarakat luas dan mulai dimainkan oleh khalayak. Angklung buatannya dinilai mampu mengeksplorasi nada-nada lebih banyak lagi. Angklung Daeng Soetigna pun mulai digunakan dan diajarkan di sekolah-sekolah.





Angklung diatonis ciptaan Daeng Soetigna semakin terkenal ketika beliau mendapat kesempatan memainkan angklung ciptaannya dalam forum Perundingan Linggarjati pada 12 November 1946. Setelah itu, Daeng dengan angklungnya semakin berkibar dalam berbagai acara baik nasional maupun internasional. Di antaranya; Konferensi Asia Afrika (Bandung, 1955), World Fair (New York, 1964), pertunjukan di Malaysia, Belanda, Perancis.
Atas jasa beliau dalam bidang kesenian, khususnya musik angklung, pada tahun 1968 Presiden Soeharto memberikan penghargaan Satya Lencana Kebudayaan, dan kembali tahun 2007 mendapatkan Anugerah Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan nama beliau diusulkan mendapat gelar pahlawan nasional dari Jawa Barat dalam bidang seni dan budaya.

Daeng Soetigna wafat di Bandung pada 8 April 1984 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Untuk mengenang beliau, angklung ciptaannya kemudian diberi nama kehormatan sebagai Angklung Padaeng.

Penghargaan yang Diterima
  • Piagam Penghargaan, atas Jasanya Dalam Bidang Kesenian Khususnya dan Kebudayaan Pada Umumnya, dari Gubernur Jawa Barat Brigjed Mashudi, 28 Februari 1968.
  • Piagam Penghargaan, dalam rangka mendorong pertumbuhan, pemekaran dan pengembangan keseniang angklung di ibukota, dari Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, 10 September 1968.
  • Tanda Kehormatan Satya Lencana Kebudayaan, dari Presiden Republik Indonesia, Jend. Soeharto, 15 Oktober 1968.
  • Piagam Penghargaan, atas jasa dalam pembinaan dan pengembangan seni daerah, khususnya seni Angklung, dari Gubernur Jawa Barat H.A. Kunaefi, 17 Agustus 1979.
  • Piagam Penghargaan, sebagai perintis Pembangunan Pariwisata Jawa Barat, dari Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana, 18 Februari 1994.
  • Piagam Penghargaan, seniman angklung yang telah berkreasi dan berkarya mengharumkan nama Jawa Barat di tingkat Nasional, dari Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan, 21 Juli 2005.
  • Piagam Penghargaan dan Metronome Award 2006, sebagai pengembang musik tradisional Angklung, dari Pusat Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia, 21 Juli 2005.
  • Penghargaan Nasional Hak Kekayaan Intelektual 2013, Pencipta Angklung, Menteri Hukum dan Hak Asasi Republik Indonesia, Amir Syamsudin, 26 April 2013.
Referensi:

indonesiaindonesia
ichi blog
detik
- Wikipedia Indonesia
- www.google.co.id

Sumber Gambar:
- angklung, google/wikipedia
daeng soetigna/gambar: kompasiana
daeng soetigna/gambar: tomita.web.id
angklung/gambar: tomita.web.id
KAA/gambar: serambipirous.com
bung karno/KAA/newsdetik:gambar
Share:

Tulisan Populer

KataKata

"Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu." (Ali bin Abi Thalib)

FEMURKU. Diberdayakan oleh Blogger.