Berbagi informasi, tips, cerita, pengetahuan, harapan, ide, dan lainnya.

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

22 September 2026

Sastra Profetik dalam "Cahaya Maha Cahaya" Karya Cak Nun




Judul: Menelusuri Kosmologi Jiwa: Sastra Profetik dalam "Cahaya Maha Cahaya" Karya Cak Nun*

Di tengah laju peradaban modern yang serba cepat dan riuh, manusia sering kali terjebak dalam pusaran rutinitas yang mekanis. Kita terbiasa mengukur nilai segala sesuatu melalui kacamata material, rasionalitas sempit, dan angka-angka yang tampak secara fisik. Di sela-sela waktu luang setelah seharian berdiri di depan kelas untuk mengajar dan berinteraksi dengan dinamika pemikiran siswa, saya kerap merenungkan betapa arus informasi masa kini kadang membuat kita secara kolektif sebagai manusia justru semakin berjarak dengan makna hidup yang esensial. Kita teramat sibuk mengisi ruang di kepala, tapi sering kali membiarkan ruang batin kita kosong melompong.

Di titik kehampaan komunal inilah, karya sastra hadir bukan sekadar sebagai estetika pelipur lara, melainkan sebagai oase, cermin, dan bahkan teguran. Salah satu karya yang memiliki daya dobrak luar biasa untuk membangunkan kesadaran kita adalah puisi "Cahaya Maha Cahaya" (1988) karya Emha Ainun Nadjib, atau yang lebih akrab disapa Cak Nun.

Jika dibaca selintas, puisi ini mungkin terasa surealis dan penuh teka-teki. Namun, jika kita membedahnya menggunakan pisau analisis sastra profetik-sebuah gagasan brilian dari Kuntowijoyo yang meletakkan teks sastra sebagai pengemban nilai-nilai kenabian—puisi ini seketika menjelma menjadi sebuah risalah pembebasan. Sastra profetik berdiri di atas tiga pilar utama: Transendensi (kesadaran ketuhanan), Liberasi (pembebasan dari belenggu duniawi), dan Humanisasi (memanusiakan manusia). Mari kita selami lebih jauh bagaimana ketiga pilar tersebut berdenyut menghidupkan tiap bait puisi Cak Nun ini.

1. Transendensi: Kosmologi Penciptaan dan Kerinduan Jiwa untuk Pulang

Transendensi (Tu'minuna billah) adalah napas utama yang menggerakkan seluruh anatomi puisi ini. Cak Nun tidak sedang mendeskripsikan waktu fisik dalam ukuran jam atau hari duniawi, melainkan menggunakan metafora "enam hari" yang bersinggungan langsung dengan kosmologi penciptaan semesta dalam teks-teks suci (Fi sittati ayyam). Namun, alih-alih menceritakan penciptaan tata surya secara harfiah, Cak Nun menyoroti evolusi spiritual ruh manusia.

Puisi ini dibuka dengan pengakuan asal-usul yang agung: "Hari pertama cahaya maha cahaya", dan kelak ditutup dengan kepulangan yang hening: "Menyatu ke hari keenam cahaya maha cahaya". Ini adalah resonansi dari konsep Nur Muhammad dalam tradisi tasawuf. Sebuah penegasan filosofis bahwa manusia pada hakikatnya memancar dari cahaya Ilahi, dan meski sempat terlempar ke bumi, jiwa itu akan terus berproses untuk kembali melebur pada Sang Sumber Cahaya.

Cak Nun juga secara indah memotret betapa misteri ketuhanan berada jauh di atas jangkauan nalar kita. Pada bait "Hari kedua kegelapan tiada tara / rahasia mulai berlaku di depanmu sebagai rahasia", kita diajak menyelami bahwa kegelapan tersebut bukanlah sebuah ketiadaan. Kegelapan itu adalah Dzatul-Ama—sebuah kondisi kebutaan absolut karena mata batin kita terlalu silau menatap Cahaya Tuhan. Puncaknya terjadi di hari kelima, sebuah fase Fana (lenyapnya ego dan eksistensi diri) menuju Baqa (kekal bersama Tuhan): "Hari di mana engkau sirna, di mana engkau tak engkau".

2. Liberasi: Gugatan Kosmis terhadap Keserakahan Materialisme

Pilar kedua, Liberasi (Nahi Mungkar), hadir sebagai bentuk pembebasan manusia dari belenggu sistem, kebodohan, dan keserakahan. Dalam puisinya, Cak Nun menyuarakan pembebasan ini lewat nada satir yang sangat tajam, lugas, dan menohok kesombongan kita.

Perhatikan baris yang menggugat ini: "Kita melempari galaksi supaya bintang runtuh, kita mengais-ais bumi mencari emas permata untuk kita kunyah-kunyah demi mengisi hari dengan ketololan". Cak Nun menelanjangi wajah modernitas yang rakus. Ambisi manusia untuk menaklukkan alam, mengeruk isi bumi, hingga mengeksplorasi luar angkasa sering kali bukan didasari oleh kebijaksanaan, melainkan oleh "ketololan" kosmis—sebuah upaya sia-sia untuk memuaskan rasa lapar batin dengan terus-menerus mengunyah materi.

Lebih jauh, Cak Nun mengajak kita meraih kemerdekaan emosional yang radikal. Di hari keempat, ia menulis: "Kau tak membutuhkan suka duka, harta atau kepapaan, kau tak terikat oleh penjara atau kemerdekaan". Ia menyodorkan titik kesadaran zuhud pada level tertinggi, di mana kesedihan, kebahagiaan, kemiskinan, hingga kemerdekaan ragawi hanyalah ilusi belaka. Hal-hal fana tersebut tak lagi mampu menyandera kemerdekaan sejati batin seorang manusia.

3. Humanisasi: Menundukkan Arogansi dan Merengkuh Empati Semesta

Tujuan akhir dari humanisasi (Amar Ma'ruf) adalah mengangkat harkat dan martabat manusia untuk kembali pada fitrahnya. Uniknya, dalam pendekatan profetik ala Cak Nun, jalan untuk memanusiakan manusia justru dimulai dengan cara menghancurkan kesombongannya terlebih dahulu.

Kalimat "Tapi kita ini dungu / Ilmu kita tingkat serdadu" adalah tamparan keras bagi kepongahan rasionalitas manusia. "Ilmu serdadu" dengan gamblang melukiskan watak pengetahuan kita hari ini: kaku, agresif, superfisial, berorientasi pada daya takluk, namun sangat miskin kebijaksanaan. Cak Nun menyadarkan bahwa rasio kita terlalu kerdil untuk mampu mengukur bentangan kehendak Tuhan, Dzat di mana "Tuhan bermain ruang waktu di tangannya".

Ketika kesombongan intelektual itu luruh, barulah yang tersisa adalah empati murni tanpa sekat ego. "Kalau kau bersedih kehidupanlah yang bersedih". Pada titik inilah, mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam semesta) telah menyatu padu. Manusia yang utuh tidak lagi menangisi nasib malang pribadinya, melainkan sanggup merasakan getar penderitaan kehidupan itu sendiri secara luas dan mendalam.

Ruang Diskusi

Melalui "Cahaya Maha Cahaya", Cak Nun tidak sedang menyuguhkan sekadar barisan kalimat puitis pelipur lara. Ia sedang memandu kita menelusuri peta jalan untuk mengenali diri dan kembali pulang. Ia menampar kedunguan materialistis kita, membebaskan jiwa dari penjara duniawi yang kasat mata, dan menuntun kita kembali menuju cahaya penciptaan.

Bagaimana menurut teman-teman pembaca setia Catatan Digital? Di era yang serba bergegas dan menuntut validasi materi ini, apakah kita masih memiliki waktu luang untuk sekadar duduk diam dan menyadari "ketololan" kita sendiri? Ataukah kita sebenarnya sudah terlalu nyaman "mengunyah emas permata" hingga lupa jalan untuk pulang?

Yuk, bagikan pandangan, renungan, atau mungkin secarik pengalaman spiritual kalian setelah menyelami puisi ini di kolom komentar di bawah! Mari kita hidupkan ruang diskusi yang mampu mengasah batin di tengah riuhnya algoritma dunia maya.

Share:

Analisis Semiotika Puisi "Kembalikan Indonesia Padaku" karya Taufiq Ismail


Analisis Semiotika Puisi "Kembalikan Indonesia Padaku" karya Taufiq Ismail*



Analisis semiotika pada puisi "Kembalikan Indonesia Padaku" karya Taufiq Ismail mengungkap berlapis-lapis tanda (sign) yang merepresentasikan kegelisahan, kritik sosial, dan pesimisme terhadap arah pembangunan bangsa pada awal dekade 1970-an. Melalui pembacaan tingkat pertama (denotatif) menuju pembacaan tingkat kedua (konotatif), puisi ini membongkar realitas suram Indonesia melalui penggabungan metafora dan citraan surealis.

Berikut adalah pembedahan tanda-tanda utama (Penanda/Signifier dan Petanda/Signified) dalam puisi tersebut:

1. "Dua Ratus Juta Mulut yang Menganga"

- Penanda: Gambaran fisik mulut yang terbuka lebar dalam jumlah yang masif (merujuk pada proyeksi populasi masa depan).

- Petanda: Kemiskinan, kelaparan, dan ketergantungan absolut. Mulut yang menganga menyimbolkan rakyat sebagai subjek yang pasif, lapar, dan hanya bisa menunggu suapan, janji, atau belas kasihan dari penguasa. Ini adalah kritik terhadap kegagalan negara dalam memberikan kemandirian ekonomi.

2. "Bola-bola Lampu 15 Wat, Putih dan Hitam, Menyala Bergantian"

- Penanda: Penerangan berdaya sangat rendah yang berkedip dengan dua warna kontras.

- Petanda: Masa depan yang redup dan penuh ketidakpastian. Daya "15 watt" menandakan kurangnya energi, visi yang terbatas, serta kelambanan kemajuan peradaban. Hitam dan putih yang menyala bergantian adalah simbol dari instabilitas, kebijakan yang tidak konsisten, serta polarisasi konflik politik yang terus berulang tanpa pernah membawa pencerahan sejati.

3. "Pertandingan Pingpong Siang Malam dengan Bola Telur Angsa"

- Penanda: Permainan tenis meja tanpa henti menggunakan bola berbentuk elips yang mustahil dipantulkan dengan benar.

- Petanda: Perilaku elite politik yang terus-menerus berdebat, saling melempar isu, dan berbalas argumen (pingpong) tiada henti. "Telur angsa" secara idiomatis bermakna "nol besar". Tanda ini mengonotasikan bahwa seluruh perdebatan dan hiruk-pikuk politik tersebut absurd, sia-sia, dan tidak menghasilkan solusi (nol) bagi rakyat.

4. "Pulau Jawa yang Tenggelam karena Seratus Juta Penduduknya"

- Penanda: Tenggelamnya daratan utama akibat kelebihan beban populasi.

- Petanda: Sentralisasi dan ketimpangan struktural. Jawa sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi dipaksa memikul beban demografi, ekologi, dan sosial di luar batas kapasitasnya. Ini adalah kritik tajam terhadap pembangunan Jawa-sentris yang secara perlahan akan menuju kehancuran sistemik.

5. "Angsa-Angsa Berenang (Membawa Bola Lampu ke Dasar Lautan)"

- Penanda: Unggas yang tetap mengapung dengan nyaman di atas daratan yang tenggelam dan menenggelamkan sumber cahaya.

- Petanda: Oligarki, elite, atau pihak asing yang tetap bisa bertahan, bersantai, dan mengambil keuntungan di atas penderitaan rakyat ("Jawa yang tenggelam"). Tindakan membawa lampu ke dasar lautan menyimbolkan matinya harapan, di mana sisa-sisa cita-cita masa depan bangsa ikut dikubur oleh keserakahan mereka.

Makna Makrosemiotik: "Kembalikan Indonesia Padaku"

Frasa yang diulang sebagai refrain ini bertindak sebagai inti semiotik (mitos kerinduan). Kata "kembalikan" menuntut adanya perampasan yang telah terjadi—Indonesia secara metaforis telah dirampas dan diubah menjadi sesuatu yang absurd, korup, dan tidak dikenali. Penyair, sebagai representasi nurani bangsa, menuntut agar Indonesia dikembalikan pada esensi aslinya sesuai dengan cita-cita luhur pendiriannya.

Konteks Indeksikal: "Paris, 1971"

Titi mangsa ini berkedudukan sebagai indeks (tanda yang memiliki kaitan sebab-akibat dengan realitas ruang dan waktu). Jarak geografis dari Paris memberikan jarak psikologis yang memungkinkan penyair melihat kekacauan tanah airnya dengan ironi yang jernih. Secara historis, tahun 1971 adalah masa awal Orde Baru di mana retorika pembangunan fisik sedang digalakkan, namun di mata penyair, hal tersebut dibayangi oleh ketimpangan, represi, dan janji-janji yang redup bagai lampu 15 watt.



*Kolaborasi dengan Gemini AI.

Share:

4 Februari 2026

Literasi Budaya : Menghidupkan Kembali Cerita Rakyat/Daerah


 


Literasi Budaya : Menghidupkan Cerita Daerah/Rakyat

Di zaman sekarang, budaya dari luar negeri (seperti tren media sosial, film, atau musik mancanegara) masuk ke Indonesia dengan sangat cepat. Ditambah lagi, kehidupan di kota besar yang serba modern sering membuat kita lupa pada tradisi sendiri. Akibatnya, banyak anak muda yang mulai asing dengan budaya aslinya. Agar identitas bangsa tetap kokoh, kita perlu meningkatkan literasi budaya.

Apa Itu Literasi Budaya?

Literasi budaya bukan cuma sekadar tahu nama tarian atau baju daerah. Literasi budaya adalah kemampuan kita untuk memahami, menghargai, dan bangga terhadap identitas bangsa. Ini seperti mengenal "akar" kita sendiri; kalau akarnya kuat, kita tidak akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh luar.Salah satu cara paling seru untuk melatih literasi budaya adalah dengan akrab kembali dengan cerita rakyat atau cerita daerah.

Contoh nyata dalam meningkatkan literasi budaya adalah dengan menghidupkan kembali cerita rakyat. Kamu bisa menjadi "pahlawan budaya" melalui langkah-langkah sederhana, dimulai dengan meluangkan waktu untuk membaca berbagai legenda atau dongeng nusantara, seperti kisah Malin Kundang, Roro Jonggrang, atau Lutung Kasarung.




Namun, jangan hanya sekadar membaca; cobalah untuk menganalisis dan merefleksikan isinya dengan memikirkan apa pesan moralnya, mengapa tokoh tersebut bertindak demikian, serta apa hubungannya dengan kehidupan kita saat ini. Setelah memahami maknanya, bagikanlah cerita tersebut dengan bahasamu sendiri, baik dengan bercerita langsung di depan kelas, menulisnya di blog, maupun mengemasnya menjadi konten video yang menarik. Dengan menceritakan ulang, kamu secara aktif telah membantu menjaga agar warisan budaya tersebut tetap hidup dan tidak terlupakan.



Selain melalui cerita, kita juga dapat memperkuat identitas bangsa dengan melakukan berbagai aksi nyata dan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Kamu bisa terlibat langsung dalam kegiatan positif seperti mengikuti festival budaya, lomba kesenian tradisional, atau belajar membuat kerajinan tangan khas daerah. Di sisi lain, penggunaan teknologi digital juga sangat efektif untuk melestarikan budaya di mata generasi muda. Dengan menciptakan konten kreatif seperti video, musik, atau animasi bertema budaya lokal, kamu bisa menarik minat teman-teman sebaya untuk lebih mengenal dan mencintai kekayaan warisan bangsa sendiri.

Mengapa Ini Penting?

Literasi budaya adalah investasi jangka panjang. Kalau paham akar budaya bangsa, maka kita akan punya rasa bangga yang tinggi sebagai orang Indonesia. Selain itu, kita jadi lebih menghargai perbedaan, sehingga hidup  menjadi lebih rukun dan toleran.

Share:

16 April 2025

Terjemahan Puisi karya Shakespeare

Artikel pada Tulisan Ini Dibuat Menggunakan AI (MetaAI)




 1. Soneta 18

"Shall I compare thee to a summer's day?

Thou art more lovely and more temperate:

Rough winds do shake the darling buds of May,

And summer's lease hath all too short a date:


Sometime too hot the eye of heaven shines,

And often is his gold complexion dimm'd;

And every fair from fair sometime declines,

By chance or nature's changing course untrimm'd;


But thy eternal summer shall not fade

Nor lose possession of that fair thou owest;

Nor shall Death brag thou wand'rest in his shade,

When in eternal lines to Time thou growest:


So long as men can breathe or eyes can see,

So long lives this and this gives life to thee."


2. Soneta 130


"My mistress' eyes are nothing like the sun;

Coral is far more red than her lips' red:

If snow be white, why then her breasts are dun;

If hairs be wires, black wires grow on her head.


I have seen roses damask'd, red and white,

But no such roses see I in her cheeks;

And in some perfumes is there more delight

Than in the breath that from my mistress reeks.


I love to hear her speak, yet well I know

That music hath a far more pleasing sound;

I grant I never saw a goddess go;

My mistress, when she walks, treads on the ground:


And yet, by heaven, I think my love as rare

As any she belied with false compare."


3. A Lover's Complaint


"When forty winters shall besiege thy brow,

And dig deep trenches in thy beauty's field,

Thy youth's proud livery, so gazed on now,

Will be a tatter'd weed, of small worth held:


Then being ask'd where all thy beauty lies,

Where all the treasure of thy lusty days;

To say, within thine own deep-sunken eyes,

Were an all-eating shame and thriftless praise.


How much more praise deserved thy beauty's use,

If thou couldst answer 'This fair child of mine

Shall sum my count and make my old excuse,'

Proving his beauty by succession thine!


This were to be new made when thou art old,

And see thy blood warm when thou feel'st it cold."


Terjemahan Bahasa Indonesia


1. Soneta 18


"Apakah aku harus membandingkanmu dengan hari musim panas?

Kau lebih cantik dan lebih tenang:

Angin kencang mengguncang kuncup-kuncup May yang indah,

Dan musim panas memiliki waktu yang terlalu singkat:


Kadang-kadang mata langit terlalu panas bersinar,

Dan sering kali wajah emasnya menjadi kusam;

Dan setiap keindahan dari keindahan kadang-kadang merosot,

Oleh keberuntungan atau perubahan alam yang tidak terkendali;


Tapi musim panasmu yang abadi tidak akan memudar

Dan tidak akan kehilangan keindahan yang kau miliki;

Dan Kematian tidak akan membanggakan bahwa kau berjalan di bayangannya,

Ketika dalam garis-garis abadi kau tumbuh dalam waktu:


Selama manusia dapat bernapas atau mata dapat melihat,

Selama itu hidup ini dan ini memberi kehidupan kepadamu."


Sumber: Soneta (terjemahan oleh Trisnojuwono, 2010)


2. Soneta 130


"Mata kekasihku tidak seperti matahari;

Koral jauh lebih merah daripada bibirnya yang merah:

Jika salju putih, maka payudaranya berwarna coklat;

Jika rambut adalah kawat, kawat hitam tumbuh di kepalanya.


Aku telah melihat mawar merah dan putih,

Tapi tidak ada mawar seperti itu yang aku lihat di pipinya;

Dan dalam beberapa parfum ada lebih banyak kesenangan

Daripada dalam napas yang keluar dari kekasihku.


Aku suka mendengar dia berbicara, tapi aku tahu

Bahwa musik memiliki suara yang jauh lebih menyenangkan;

Aku tidak pernah melihat dewi berjalan;

Kekasihku, ketika dia berjalan, menginjak tanah:


Dan namun, demi Tuhan, aku pikir cintaku sama jarangnya

Dengan siapa pun yang dikecoh dengan perbandingan palsu."


Sumber: Soneta (terjemahan oleh Trisnojuwono, 2010)


3. A Lover's Complaint


"Ketika empat puluh musim dingin akan mengepung dahimu,

Dan menggali parit-parit dalam di lapangan keindahanmu,

Pakaian kebanggaan masa mudamu, yang sekarang begitu dikagumi,

Akan menjadi pakaian yang compang-camping, dengan nilai yang kecil:


Lalu ketika ditanya di mana semua keindahanmu berada,

Di mana semua harta masa mudamu;

Untuk mengatakan, dalam mata yang tenggelam dalammu,

Akan menjadi malu yang menghabiskan segalanya dan pujian yang tidak berguna.


Berapa banyak pujian yang lebih layak untuk keindahanmu,

Jika kau bisa menjawab 'Anakku yang cantik ini

Akan menghitung jumlahku dan membuat alasan lamaku',

Membuktikan keindahannya dengan suksesi darimu!


Ini akan menjadi seperti dibuat baru ketika kau sudah tua,

Dan melihat darahmu hangat ketika kau merasa dingin."


Sumber: A Lover's Complaint (terjemahan oleh Trisnojuwono, 2010)

Share:

24 Januari 2021

Tugas 2 Teks Persuasi




Bacalah teks berikut dengan sungguh-sunggung dan penuh semangat! 


Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan Saudara-saudara yang saya hormati.

(1) Sekarang ini bangsa Indonesia ada di dalam suasana memperingati Hari Sumpah Pemuda, yang jatuh pada setiap tanggal 28 Oktober. Suatu hari yang sangat bersejarah. Bangsa Indonesia khususnya dari golongan pemuda pada masa itu, tahun 1928, telah berhasil mewujudkan persatuan bangsa yang kemudian melahirkan ikrar bersama yang kita kenal dengan "Sumpah Pemuda".

(2) Dalam menyambut Hari Sumpah Pemuda, kamu harus bisa mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya. Salah satu hikmahnya yang sangat penting adalah semangat persatuan. Bangsa Indonesia yang pada waktu itu sedang menghadapi penjajah Belanda perlu bersatu untuk menghadapinya secara bersama-sama. Karena itulah disepakati bersama untuk mengucapkan ikrar sebagai kebulatan tekad di dalam mengusir penjajah Belanda yang selama itu telah memorak-porandakan kehidupan bangsa.

(3) Dari modal persatuan itulah kemudian bangsa Indonesia dapat mencapai kemerdekaannya yang telah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Meskipun memakan waktu yang agak lama, dapat dikatakan bahwa sumpah Pemuda yang dilandasi semangat persatuan itulah yang merupakan senjata ampuh yang dapat membawa bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya.

(4) Persatuan bangsa diibaratkan sebuah gedung. Satu per satu bagiannya saling mengait sehingga menjadikan gedung itu kukuh. Begitu juga bangsa kita hendaklah demikian sehingga dalam mengikuti derap langkah pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah sekarang bisa seirama menuju satu sasaran: masyarakat yang adil dan makmur dalam limpahan rahmat Allah Yang Mahakuasa. Hadirin yang berbahagia,

(5) Bagi para pemuda dan pelajar yang kini sering menyandang predikat sebagai generasi penerus bangsa, sudah sewajarnya jika pada masa-masa sekarang mempelopori semangat persatuan yang dahulu pernah diwujudkan dalam sumpah pemuda. Jangan sampai api persatuan itu padam lantaran kita tenggelam dalam kemelut perselisihan ataupun terlena dalam menekuni kepentingan pribadi.

(6) Sesungguhnya menghidupkan semangat persatuan dan kekompakan, termasuk upaya kita dalam mensyukuri nikmat Allah. Rasa syukur tersebut kita tingkatkan lagi dengan menjalankan berbagai amal kebajikan, terutama dengan mengajak semua generasi muda Indonesia untuk lebih giat beribadah kepada Allah sesuai dengan bidang masing-masing. Dengan demikian, citra pemuda semakin harum di masyarakat.

(7) Demikianlah, semoga semangat persatuan yang tecermin dalam Sumpah Pemuda tetap dapat kita warisi untuk dijadikan moda perjuangan membela bangsa dan negara.


TUGAS!

1. Tulislah kalimat ajakan, bujukan yang ada di dalam teks tersebut!

2. Tulislah kalimat yang berisi pendapat dari teks tersebut!

3. Tulislah kalimat fakta yang ada pada teks tersebut di atas!

4. Cari dan tulislah kata-kata teknis/istilah dari teks tersebut!

5. Cari dan tulislah kata-kata yang merupakan konjungsi kausalitas dari teks tersebut!

6. Cari dan tulislah kata-kata yang merupakan kata kerja mental dari teks tersebut!

7. Cari dan tuliskan kata-kata yang merupakan kata perujukan dari teks tersebut!


Petunjuk!

1. Tulis di buku kalian pertanyaan dan jawabannya saja!

2. Kirim jawaban kalian ke nomor WA 085867838731!


Terima kasih dan selamat mengerjakan!

Share:

21 Oktober 2020

Puisi-puisi Kuntowijoyo

Kumpulan Puisi karya Kuntowijoyo

Sajak-sajak yang dimulai dengan bait Al-Barzanji

1.1

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Nabi yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Sesudah membuka pintu-pintu
aku keluar menuju ladang
dan di antara pohon kutemukan
senyum, danau, dan ayat Tuhan

1.2

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Muhammad yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Seperti butir salju
ruhku menggigit  rumput
menghisap putik makrifat
dan setangkai mawar

1.3

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Matahan yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Aku ingin
Meletakkan sekuntum sajak
Di makam Nabi
Supaya sejarah menjadi jinak
Dan mengirim sepasang merpati

1.4

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Purnama yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Aku jatuh cinta
karena matematik
mengajar manusia
lebih mulia dari malaikat
demikian kutulis musik dan puisi
dan menanti mutmainnah di sudut rumah
sambil menatap kuncup rahmat mekar di halaman

1.5

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Cahaya yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Dengan ikhlas
kutanam pohon untuk burung
yang sanggup
memuji Tuhan dengan sempurna

1.6

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Rasul yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Batu putih, Madura
Di mata air
mukaku bergoyang di antara pohon dan awan
dan aku terbenam
di pasir subhanallah


1.7

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Tercinta yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Aku ingin
jadi pencuri
yang lupa menutup jendela
ketika menyelinap
ke rumah Tuhan
dan tertangkap

(Disadur dari buku Maklumat Sastra Profetik, Kaidah Etika dan Struktur Sastra)

Pertentangan ialah hukum surgawi

Kepada matahari
kau tak pernah menyatakan tidak
Setiap pagi kau menuai
Dan mengelompokkan energi ke dalam makna
Namun selalu saja kau lupa
bahwa rindu juga tenaga
Ingat pepatah
yang sempurna ialah yang rindu
dan rindu yang sempurna ialah yang lupa

Selain sepi kun fayakun
juga menjelma jadi putih
Segala yang tidak jatuh
sebagaimana langit
menghapus dendam pada yang putih
Dan dari yang putih
engkau yang memukau
Engkau, mozaik, juga berwarna biru
Yang biru ialah yang putih
Tidak akan memudar, aku bersaksi

Kepada optika
engkau mengharap lebih dari sinar
tetapi tidak tanpa matahari
Hak penghuni malam ialah yang lembut
lebih dari sekadar langit
Namun, hanya bintang sanggup bertaburan
Dan ruhmu, insyaallah

Semua yang kemilau adalah yang hijau
Engkau berdoa supaya warna
tetap memikat dan air mewangi
Dan sungai mengalirkan rindu
Maka daun yang lepas
Dari dahan menjatuhkan makrifat
Lalu engkau pun

Milik bulan ialah yang lembut
sebab salju selalu berkilau
Dan engkau, sahabat mata air
lebih bulan dari kuning
Karena muthmainnah, bagai bayang-bayang
mekar dalam sunyi

Semoga Tuhan memberi karunia  rumput
Yang menawarkan semi sejati
Ketika musim pelaut menaburkan benih
Yang menyuburkan semesta
Dan sunyi menjanjikan mimpi yang mawar

Atas perintah
cahaya jadi bunyi
Di atas pohon cakrawala
Di antara para pemabuk
Setelah perahu kembali ke sauh
engkau pun berpihak
Kapada lautan kabut

Di ujung makrifat
bersama malaikat
ketika angin
dan ruh
dan Hu
terjatuh

Dan engkau
Bersama rindu pohon
aku percaya pada yang merah
dan Engkau. Bersama ombak, buih dan nelayan
aku percaya pada yang jingga
dan Engkau. Bersama burung, rumput dan petani
aku percaya pada yang kuning
dan Engkau. Bersama angin dan bintang
aku percaya pada yang hijau
dan Engkau. Bersama sauh, perahu dan pelaut
aku percaya pada yang biru
dan Engkau. Bersama rebana dan kecapi
aku percaya pada yang api
dan Engkau. Bersama kabut dan hutan
aku percaya pada yang ungu
dan Engkau

Aku cinta keajaiban
karena bersama bulan bunga mengenal mawar
Aku cinta keajaiban
karena Hu pun
Khutbah-khutbah burung
Mengikat langit dan awan
Memberi warna putih
Kepada mawar
Dan kepada ruhmu

Tuhan dan malaikat mencuci pagi
Lalu awan pun membuka ujung langit
Dan engkau, wakil yang serba kuning, mengurai kabut

Ya nabi salam ‘alaik
Ya rasul salam ‘alaik
Ya habib salam ‘alaik

Di antara nama-nama indah
aku pilih Al Hayyu
yang mengalirkan oksigen ke ujung pohon
dan menggoda kerisik cemara

Ya Hayyu

Kusapa angin pagi di Ann Arbor
ditawarkan kalau-kalau aku suka keliling kota
Hari itu mendung
dan ia berjanji sunguh-sungguh
takkan membiarkan aku kehujanan
Habis, kami berdua adalah ayat Tuhan

Aku percaya keajaiban O2
yang mengalir lewat darah
dan menyebarkan virus makrifat

Ya Allah
Ya Rasulullah
Ya malaikat
Ya bukit-bukit
Ya batu-batu
Ya daun melayang
Ya burung mengigau
Ya tumbuh
Ya berkembang
Ya menghilang

Yang selalu ialah alif lam mim
yang sempurna ialah kabut
ketika menyebut nun
lalu, menyelinap ke laut
Marhaban. Ahlan wa sahlan

Burung murai
menanam rumput makrifat dan Hu
berisik di daun Hu
beratap di kutub Hu
berumah di rantau Hu
berteduh di ranting Hu

Makrifat sungai pohon
Makrifat bunga mawar
Makrifat batu-batu
merangkai tasbih danau
melebur danau jadi kemilau
melebur kemilau jadi ruh
melebur ruh jadi aku
melebur aku jadi nafas-Mu

Ketika salju mencair
Ketika zikir mengalir
Ketika benam  membenam
Ketika engkau dan Hu
Melepas rindu

Suatu hari kutemukan
burung di sangkar termenung membungkam
aku bertanya dan dengan sedih dia mengatakan
Mereka yang melupakan Tuhan
tak berhak mendengar burung bernyanyi

Sebagai hadiah malaikat menanyakan
apakah aku ingin berjalan di atas mega
dan aku menolak
karena kakiku masih di bumi
sampai kejahatan terakhir dimusnahkan
Sampai dhuafa dan mustadhafin
diangkat Tuhan dari penderitaan

sumber: buku kaidah sastra profetik karya Kuntowijoyo
Share:

29 Juli 2020

Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

Lagu Indonesia Raya 3 Stanza
Ciptaan W.R. Supratman


I

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku Semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

(Ulangan)
Indonesia Raya
Merdeka, Merdeka
Tanahku, Negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka, merdeka
Hiduplah Indonesia Raya


II

Indonesia, tanah yang mulia
Tanah kita yang kaya
Disanalah aku berdiri
Untuk slama-lamanya

Indonesia, tanah pusaka
P’saka kita semuanya
Marilah kita mendoa
Indonesia bahagia

Suburlah tanahnya
Suburlah jiwanya
Bangsanya, Rakyatnya, Semuanya
Sadarlah hatinya
Sadarlah budinya
Untuk Indonesia Raya

(Ulangan)

Indonesia Raya
Merdeka, Merdeka
Tanahku, Negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka, merdeka
Hiduplah Indonesia Raya


III

Indonesia, tanah yang suci
Tanah kita yang sakti
Di sanalah aku berdiri
M’njaga ibu sejati

Indonesia, tanah berseri
Tanah yang aku sayangi
Marilah kita berjanji
Indonesia abadi

S’lamatlah rakyatnya
S’lamatlah putranya
Pulaunya, Lautnya, Semuanya

Majulah negrinya
Majulah pandunya
Untuk Indonesia Raya

(Ulangan)

Indonesia Raya
Merdeka, Merdeka
Tanahku, Negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka, merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Sumber
Share:

2 Juli 2018

Video Puisi Ibu karya Chairil Anwar

Puisi Ibu karya Chairil Anwar

Sosok ibu memang takkan lekang oleh waktu, sebab kasih sayangnya sepanjang masa. Penyair Chairil Anwar melukiskan kenangan bersama sang ibu melalui puisi karyanya. Yuk lihat dan baca bersama-sama.
link youtube: https://www.youtube.com/watch?v=zfLCbMmOiWU
Share:

11 Agustus 2016

Sekilas Profil Ahmad Tohari

Novel, cerpen, puisi karya Ahmad Tohari
Berikut biodata Ahmad Tohari, dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia.
Ahmad Tohari, (lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948; umur 68 tahun) adalah sastrawan dan budayawan berkebangsaan Indonesia. Ia menamatkan SMA di Purwokerto. Karya monumentalnya, Ronggeng Dukuh Paruk, sudah diterbitkan dalam berbagai bahasa dan diangkat dalam film layar lebar berjudul Sang Penari. Ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (1975-1976). Tulisan-tulisannya berisi gagasan kebudayaan dimuat di berbagai media massa. Ia juga menjadi pembicara di berbagai diskusi/seminar kebudayaan.
Dalam dunia jurnalistik, Ahmad Tohari pernah menjadi staf redaktur harian Merdeka, majalah Keluarga dan majalah Amanah, semuanya di Jakarta. Dalam karier kepengarangannya, penulis yang berlatar kehidupan pesantren ini telah melahirkan novel dan kumpulan cerita pendek. Beberapa karya fiksinya antara lain trilogi Ronggeng Dukuh Paruk telah terbit dalam edisi Jepang, Jerman, Belanda dan Inggris. Tahun 1990 pengarang yang punya hobi mancing ini mengikuti International Writing Programme di Iowa City, Amerika Serikat dan memperoleh penghargaan The Fellow of The University of Iowa. 
Ahmad Tohari Sastrawan Indonesia Banyumas
Foto: jogjanews.com
Ronggeng Dukuh Paruk, novel yang diterbitkan tahun 1982 berkisah tentang pergulatan penari tayub di dusun kecil, Dukuh Paruk pada masa pergolakan komunis. Karyanya ini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru, sehingga Tohari diinterogasi selama berminggu-minggu. Hingga akhirnya Tohari menghubungi sahabatnya Gus Dur, dan akhirnya terbebas dari intimidasi dan jerat hukum. 
Bagian ketiga trilogi, berjudul Jantera Bianglala, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan cuplikannya dimuat dalam Jurnal Manoa edisi Silenced Voices terbitan Honolulu University tahun 2000, termasuk bagian yang disensor dan tidak dimuat dalam edisi bahasa Indonesia. 
Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Dancer oleh Rene T.A. Lysloff. Trilogi ini juga difilmkan oleh sutradara Ifa Irfansyah dengan judul Sang Penari (2011). Tohari memberikan apresiasi yang tinggi terhadap para pembuat film Sang Penari, dan berujar ini akan jadi dokumentasi visual yang menarik versi rakyat, bukan versi kota sebagaimana dalam film-film sebelumnya. [6]Pada bulan Desember 2011, Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa dirinya berencana untuk melanjutkan Triloginya menjadi Tetralogi dengan membuat satu novel lagi. 

Kumpulan karya Ahmad Tohari

  • Kubah (novel, 1980)
  • Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk
  • Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982)
  • Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985)
  • Jantera Bianglala (novel, 1986)
  • Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
  • Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989)
  • Bekisar Merah (novel, 1993)
  • Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
  • Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000)
  • Belantik (novel, 2001)
  • Orang Orang Proyek (novel, 2002)
  • Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004)
  • Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (novel bahasa Jawa, 2006)
Rujukan: Wikipedia
Share:

1 Juli 2016

Contoh Adaptasi Naskah: Jasa-Jasa Buat Sanwirya, karya Ahmad Tohari

Contoh Adaptasi Naskah Drama Cerpen Jasa-jasa Buat Sanwirya karya Ahmad Tohari

Di atas sehelai tikar Sanwirya terbaring sambil mengaduh kesakitan. Di sampingnya tergeletak dua buah pongkor pecah dan niranya tertumpah habis. Disebelah kiri didampingi Ranti, Aku, dan Sampir. Ranti dan Aku membukakan ikat pinggang Sanwirya, Waras melekatkan telinganya ke dada Sanwirya. Lonceng berdentang sekitar lima kali. Lampu menyala di tempat pembaringan Sanwirya. Dukun datang, Ranti, Aku, Sampir, Waras keluar dari pembaringan Sanwirya. Tak lama kemudian lampu berpindah ke tempat lain yaitu di atas lincak.

Sampir : Jadi kawan-kawan kita sudah sepakat sama-sama merasa kasihan pada Sanwirya. Begitu?
Aku : Paling tidak itu lebih lumayan daripada bertengkar.
Ranti : Syukur! Marilah. Ada banyak cara untuk merasa kasihan kepada penderes itu Menyobek kaus yang sedang kupakai untuk membalut luka Sanwirya adalah sejenis rasa kasihan yang telah kulakukan. Oh, jangan tergesa-gesa, kita akan menentukan lebih dahulu demi apa rasa kasihan itu kita adakan.
Waras : Apa kataku! Yang seorang ini akan mulai dengan yang sulit-sulit. Kalau kau masih berbicara tentang aku akan lebih tertarik pada serabi.

Sanwirya mengerang, Aku mengintip. Lampu menyala di pembaringan Sanwirya, Nyai Sanwirya memegangi tengkuk suaminya. Air matanya menetes pada hidungnya, lampu padam dan terang ditempat keempat orang tadi. Sampir meluruskan punggungnya lalu mengatur duduk dengan mantap

Sampir : Baik kalau itu menyulitkan kita singkirkan saja. Yang pertama-tama harus kita selenggarakan adalah makanan untuk keluarga Sanwirya. Siapa yang mengetahui ada peladang sedang mencabuti ubi kayu?
Waras : Kau menyuruh kami meminta ubi kayu? Tak mungkin! Musim ini semua orang hanya menanam ubi estepe sebab celeng dan monyet tak mau menyukainya. Kita takkan memberi makan Sanwirya dengan ubi beracun itu.
Ranti : Dengar! Yang berminat mencari makanan buat Sanwirya boleh datang ke lumbung Aku : Tapi hanya desa. Atas nama penderes itu kita mengajukan pinjaman padi secukupnya.
Aku : Tapi hanya desa. Atas nama penderes itu kita mengajukan pinjaman padi secukupnya.
penggarap-penggarap sawah saja yang boleh mendapat pinjaman. Sanwirya tidak menggarap apa-apa kecuali pongkor dan arit.
Waras : Jelaskah Sanwirya tak mungkin mendapat pinjaman?
Aku : Pasti!
Sampir : Itulah. Maka harus ada demi. Jadi, kita dapat berkata demi anu Sanwirya harus mendapat pinjaman padi. Meski ia tak menggarap sawah. Apa katamu Waras?

Setelah semuanya terdiam lampu padam, lalu menyala di pembaringan Sanwirya. Rintihan Sanwirya terdengar kembali. Sekarang suaranya datang dari pangkal tenggorokannya. Dukun melumuri tubuh si sakit denganair kunyit. Nyai Sanwirya duduk di kaki suaminya. Menangis dan hidungnya merah. Lampu padam dan perlahan menyala di tempat kempat orang tadi berbincang-bincang.

Waras : Pokoknya aku setuju kalau Sanwirya diberi pinjaman. Kelihatannya lumbung desa itu bukan tempat yang memalukan buat minta kasihan.
Sampir : Itu berarti waras telah sepakat. Catat Ranti! Satu rencan telah kita setujui. Selanjutnya saya bermaksud menjual jaketku sebagai upah dukun. Siapa yang akan menutupi kekurangannya.
Ranti : Tunggu Sampir. Biarkan jaketmu tetap di situ. Bila kau bertelanjang dada siapa yang akan mengurusi bengekmu?
Waras :Kita akan menemui tengkulak yang biasa menerima gula Sanwirya. Kukira takkan sulit meminjam sembilan puluh rupiah darinya.
Sampir : Maksudmu agar Sanwirya nanti mengangsurnya? Pikiran yang bagus. Kalau semua sudah tidak keberatan kuminta Ranti menambah catatan! Satu lagi rencana jasa. Mudah-mudahan penderes itu takkan kesulitan mencari cara berterima kasih pada kita.

Lampu berpindah keruang Sanwirya terbaring. Ia batuk dan muntah, dukun menyilangkan tangan di dadanya, Nyai Sanwirya menggigil. Lampu kembali menyala di tempat keempat orang itu. Aku mengintip. Tak ada yang bersuara. Sampir menyalakan rokok, tapi direbut Waras. Sampir tampak tenang, ia menepuk dahinya sendiri.
Sampir :Satu perkara yang lebih besar ialah bagaimana melindungi Sanwirya. Maksudku agar ia tak ditipu dua ons tiap kali menimbang gulanya. Agar dia dapat bertahan bila tengkulak menentukan harga gula terlalu rendah. Pokoknya agar harga gula tidak lagi menjadi pertanyaan yang mengerikan!
Waras : Berhenti, Bung mau bicara soal koperasi! Tunggu Sampir, aku mau menanyakan selain kepadamu apakah kesepakatan kita masih perlu berkepanjangan?
Sampir : Tidak heran, semacam Waras pasti akan selamat bangun tidur padaku. Kau pasti akan mengatakan semua ini omong kosong. Iya apa tidak?

Warasm enatap mata Sampir sebentar, lalu menoleh padaku. Ranti tertawa pelan. Terdengar lagi keluhan panjang dari bilik Sanwirya.

Sampir : Akan kita buktikan siapa diantara kita yang tidak kehilangan separo akal sehat. Dan kau Waras bisa meninggalkan lincak ini bila mau!
Ranti : Bukan begitu. Sebaiknya diantara kita ada penyabar-penyabar. Maksudku agar kita memberi kesempatan pada siapa yang akan membuktikan dirinya tidak kehilangan akal sehat.
Waras : Aku mengerti itu
Sampir :Nah begitu! Kita akan menunjukkan diri kita sebagai si putus asa sesudah bergelandang selama tujuh tahun. Setuju?
Waras :Ya, Sampir! Kata-kataku saya ganti. Aku tidak lagi mengatakan omong kosong. Kukatakan sekarang pikiranmu mirip ide adikku yang baru dipelonco. Tidak marah?
Sampir :Hm. Sebuah koperasi berarti bagi Sanwirya adalah kesempatan berganti kain sarung. Dan itu telah kita sepakati. Satu lagi jasa buat Sanwirya. Catat Ranti!

Lima anak kecil memandang Sampir yang terbahak. Mereka tidak menutupi kemaluannya masing-masing. Di atas pundak mereka ada seikat ranting bambu untuk memasak nira. Waras mengusir mereka.

Waras :Dengar Sampir, kau harus menyetujui kata-kataku ini. Bahwa jasa-jasa buat Sanwirya seharusnya bukan merupakan hal yang tanggung. Semuanya baru memadai bila Sanwirya sudah memegang polis asuransi jiwa. Sebab semua penderes semestinya mati bila jatuh dari pohon kelapa. Sehingga akan terdengar suara semacam ini. Seorang penderes semacam Sanwirya telah menggantungkan nyawanya hingga bila ia jatuh dan mati, istrinya takkan kesukaran mencari kain kafan. Merdu mana dengan gamelan degung kedengarannya?
Sampir :Hore hore! (berteriak). Sekarang percuma memberi gelar pemuda onani pada Waras. Ia hebat. Hore hore!
Ranti :Sampir kau tak boleh membunuh Sanwirya dengan cara melolong seperti itu (berbisik).
Sampir :Oh maaf. Tapi pikiran Waras itu sangat patut. asuransi adalah tepat untuk perlindungan Sanwirya.
Ranti : Tapi kita tentukan dulu berapa harga yang pantas untuk nyawa penderes itu.
Waras :Bahkan itu terlalu tergesa-gesa. Kita buktikan dulu apakah tubuh Sanwirya juga digerakkan oleh nyawa. Kalau benar nyawa kelas berapakah miliknya itu. Baru kita tentukan premi asuransinya.

Semua terdiam. Sampir menahan kagetnya lalu menatap Waras. Yang habis berbicara itu hanya mengangguk-ngangguk. Nyai Sanwirya mengisak dan meratap dengan panjang. Ranti memegangi lenganku dan menggigil ketika tiba-tiba Nyai Sanwirya menjatuhkan diri di depan kami.

Nyai Sanwirya : Oalah Pangeran...oalah Gusti....
Sampir : Tenanglah Nyai, tenang. Kami belum pergi dari sini karena kami sudah sepakat akan mengasihi suamimu. Kami sedang merencanakan banyak jasa untuk menolong kalian.
Nyai Sanwirya : Menolong? Oalah gusti...menolong?
Sampir : Iya. Kalian tak suka kelaparan bukan?
Nyai Sanwirya :Itukah sebabnya kalian mencarikan pinjaman ke lumbung desa dan ketengkulak? Oalah Pangeran...jangan lakukan itu. Wanti-wanti jangan. Kami tak takkan lebih senang dengan pinjaman-pinjaman itu. Kami tak pernah mempunyai persoalan yang namanya lapar! Dan Gusti Pangeran..., tadi kalian ramai-ramai mau menentukan harga nyawa Kang Sanwirya? Mengharapkan dia cepat mati? Oalah...oalah....
Sampir : Itu benar.
Nyai Sanwirya :Oalah Gusti...panggilkan modin...Kang Sanwirya hampir ajal

Kami berempat mengintip ke dalam. Lampu terang di pembaringannya Sanwirya. Dukun sedang menyilangkan tangan Sanwirya lalu mengusap kelopak matanya agar tertutup. Lampu menyala di tempat mereka berempat. Sampir menjadi sangat pucat. Ia hedak lari dan kupegangi lehernya.

Aku :Kau Sampir! Ada jasa yang masih dapat kau lakukan. Turuti permintaan Nyai Sanwirya memanggil Modin!

Sampir lari ke sana. Di bawah pohon manngis dia jatuh tersandung pongkor, bangun dan lari.
Share:

Tulisan Populer

KataKata

"Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu." (Ali bin Abi Thalib)

FEMURKU. Diberdayakan oleh Blogger.