Berbagi informasi, tips, cerita, pengetahuan, harapan, ide, dan lainnya.

24 Februari 2015

Makalah Kenakalan Individu

KENAKALAN INDIVIDU DAN KENAKALAN KELOMPOKTUGAS MATA KULIAH PERENCANAAN PENGAJARANBAHASA INDONESIA













Oleh :
Ervina Diah P.             NIM.1201040003
Asri Fiana                    NIM.1201040004
Fajar Edi M.                NIM.1201040006




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DAN BAHASA INDONESIAFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO2014




Kenakalan Individu


1.      Mencari Perhatian
Contoh:
-          Ketika guru sedang menerangkan, melakukan perbuatan yang mengganggu siswa lain.
-          Melakukan hal-hal yang membuat kegaduhan kelas
-          Pura-pura sakit
-          Pura-pura tidak mengerti sehingga sering bertanya
2.      Mencari Kekuasaan
Contoh:
-          Suka memerintah teman yang dianggap lemah.
-          Meminta uang kepada teman lain secara paksa.
-          Selalu memaksakan pendapat.
-          Selalu ingin mengalahkan orang lain
-          Selalu menentang semua peraturan

3.      Balas Dendam
Contoh:
-          Sengaja untuk tidak masuk sekolah karena tidak suka dengan salah seorang guru,
-          Membolos karena tidak diberi uang saku lebih oleh orang tua
-          Membuat onar di lingkungan sekolah, karena merasa diabaikan.

4.      Peragaan Ketidakmampuan
Contoh:
-          Merasa pesimis atau putus asa
-          Anak tidak mau menerima tugas dan selalu mengatakan tidak bisa.
Kenakalan Kelompok
1.      Kelas Kurang Kohesif
Contoh:
-          Tidak melaksanakan kewajiban / tugas yang diberikan untuk kelas,
-          Membuat geng atau kelompok kecil dengan tujuan yang menjurus hal negatif,
-          Lemahnya hubungan antar siswa karena perbedaan jenis kelamin, suku, dan tingkat sosial ekonomi

2.      Kesebelan Terhadap Norma yang Sudah Disampaikan
Contoh:
-          Dengan sengaja melanggar tata tertib yang sudah ada,
-          Memakai seragam yang tidak sesusai dengan ketentuan,

3.      Kelas Mereaksi Negatif Teman yang Salah
Contoh:
-          Menertawakan teman ketika melakukan kesalahan,
-          Mengolok-olok apabila melihat ada salah satu teman yang terlambat.

4.      Membombong Teman yang Melanggar Norma
Contoh:
-          Memberi semangat kepada teman yang suka melanggar peraturan

5.      Mudah Dialihkan Perhatiannya
Contoh:
-          Ketika mengerjakan tugas lebih tertarik kepada hal lain di luar kelas

6.      Semangat Kerja Rendah
Contoh:
-          Siswa melakukan protes kepada guru karena tugas yang diberikan kurang adil

7.      Kurang Mampu Menyesuaikan Diri
Contoh:
-          Menunjukkan sikap tidak suka kepada guru pengganti



Teknik Penanggulangan Masalah Anak dalam Pengelolaan Kelas :

            Teknik pengelolaan kelas dapat dikelompokkan ke dalam teknik preventif dan kuratif. Teknik preventif adalah teknik untuk mencegah timbulnya tingkah laku yang dapat mengganggu kegiatan pembelajaran, sedangkan kuratif adalah tindakan korektif guru terhadap perilaku anak yang  menyimpang dan merusak kondisi optimal bagi kelangsungan aktivitas anak di dalam kelas.
Hasibuan (1994) mengemukakan sejumlah sikap dan tindakan guru dalam masing-masing teknik di atas, yaitu :
1.      Teknik Preventif
-          Sikap terbuka
Sikap terbuka merupakan sikap guru yang penting untuk menunjukkan keakraban hubungannya dengan anak. Dengan suasana keterbukaan, anak-anak merasa bebas dan leluasa mengemukakan pendapatnya serta yakin guru selalu mendengarkan dan memperhatikan pendapatnya.
-          Sikap Menerima dan Menghargai Siswa sebagai Manusia
Sikap tersebut berpengaruh baik juga terhadap perkembangan anak
Sikap menerima apa adanya merupakan pernyataan sayang, merasa diterima berarti merasa di sayang. Anak tidak akan merasa rendah diri dan malu, karena guru memperlakukannya dengan cara yang tidak membeda-bedakan.
-          Sikap empati
Sikap empati, upaya yang dilakukan dlam dimensi pencegahan. Sikap empati berarti guru harus memandang anak dari sudut pandangan siswa. Sikap empati mencegah timbulnya rasa malu dan takut pada anak, dan dapat pula membangun keberanian anak, jika diminta untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran. Contoh, dalam pengembangan motorik anak Ibu guru melatihkan mengancingkan baju
-          Sikap demokratis
Sikap demokratis, ditunjukan guru untuk teknik pencegahan. Guru berusaha menempatkan perannya sebagai pengarah dan pembimbing dalam proses pembelajaran. Berbicara dengan ramah, membimbing anak, menggunakan kata-kata ajakan, menolong anak dan membagi tanggung jawab secara bersama untuk menciptakan suasana demokratis di dalam kelas. Dalam tindakan pengelolaan kelas anak diajarkan untuk bertanggung jawab, diperlakukan sebagai manusia yang dapat secara bijaksana mengambil keputusan di samping memberikan kesempatan untuk menanggung konsekuensi perbuatannya sendiri.
-          Mengarahkan anak pada tujuan kelompok
Aturan kelompok penting dilakukan guru untuk pencegahan perilaku anak. Mengarahkan anak pada tujuan kelompok adalah mengarahkan anak ke tujuan kelas, khususnya tujuan pengajaran. Guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang realistis, mengkomunikasikan pada anak secara jelas.
-          Menghasilkan aturan kelompok yang disepakati bersama
Beberapa contoh dari aturan bersama-sama dengan anak :
·         Mengacungkan tangan sebelum bertanya
·         Mendengarkan baik-baik petunjuk guru
·         Mengikuti pengarahan yang diberikan guru
·         Menjalin kerja sama dengan teman sekelas
·         Menyelesaikan tugas-tugas tepat pada waktunya
·         Membantu teman lain, seperti juga kamu akan dibantu
·         Membawa buku, pensil, kertas, penghapus dan alat-alat lainnya yang diperlukan untuk belajar
·         Menempati tempat di tempat duduk sebelum bel berbunyi
·         Melakukan persiapan untuk pulang ke rumah secara tertib.
-          Memperjelas komunikasi
Memperjelas komunikasi, guru diharapkan memperjelas komunikasi yang dilakukan anak, karena tidak semua anak dapat berkomunikasi dengan baik. Dalam hal ini guru mengulangi apa yang diucapkan anak dengan maksud mempertegas maksud anak.
-          Menunjukan kehadiran
Menunjukan kehadiran dilakukan guru sebagai teknik pencegahan perilaku anak yang tidak diinginkan. Guru perlu menunjukan pada anak bahwa ia hadir di kelas, tidak secara fisik tetapi juga mental. Guru hendaknya sadar serta tanggap terhadap perhatian anak, keterlibatan anak sehingga diketahui anak yang acuh atau kurang berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Sikap guru yang demikian dirasakan anak bahwa gurunya hadir bersama dengan mereka dan mengetahui apa yang mereka perbuat.

2.      Teknik Kuratif
Dengan teknik kuratif guru dapat melakukan beberapa hal,
-          Penguatan negatif
Guru yang melakukan penguatan negatif akan berusaha untuk mengurangi atau selanjutnya menghilangkan suatu stimulus yang tidak menyenangkan, agar anak terdorong kembali untuk berperilaku yang sama sebagai akibat dari pengurangan atau penghilangan stimulus tersebut. Contoh Ibu guru menginginkan anak pemalu berani menyanyi ke depan, ia menunjuk langsung anak kurang berani bernyanyi ke depan sendiri (stimulus tidak menyenangkan), tetapi bila suatu saat anak mulai berani menyanyi ke depan tanpa ditunjuk oleh guru, maka guru mengurangi secara berangsur-angsur cara menunjuk langsung (penguatan negatif).

-          Penghapusan
Penghapusan dapat pula dilakukan guru dalam menanggulangi perilaku anak yang mengganggu kegiatan belajar. Kegiatan ini kebalikan dari penguatan, khususnya penguatan positif. Dalam penguatan positif tingkah laku anak dipertahankan, sedangkan dalam pengahapusan, tingkah laku anak dikurangi atau dihilangkan sama sekali. Contoh, kebiasaan menutup mulut dengan tangan apabila menjawab pertanyaan guru. Guru mengatakan secara langsung agar tidak menutup mulut dengan tangan bila menjawab.

-          Penghukuman
Hukuman merupakan tindakan yang dapat diterapkan guru untuk anak berperilaku mengganggu kelancaran pembelajaran. Pemberian hukuman secara bijaksana secara terbatas menimbulkan akibat yanbg baik secara tepat, tetapi guru harus hati-hati mencatat akibat-akibat dari hukuman itu. Pemberian hukuman hendaklah dihindarkan sekiranya masih ada alternatif yang tepat untuk menghilangkan tingkah laku anak yang tidak diinginkan, sehingga tidak menimbulkan akibat sampingan, baik terhadap anak maupun guru. Hukuman memberikan pengaruh psikologis yang negatif pada anak. Namun pemberian hukuman yang cocok dengan situasi dan perilaku anak, ada kemungkinan dapat meningkatkan proses pembelajaran anak.

-          Pembicaraan situasi pelanggaran dan bukan pelaku pelanggaran
Membicarakan situasi pelanggaran, bukan pelaku pelanggaran. Dalam hal ini guru menghadapi masalah perilaku anak, tidak bersikap marah atau tidak menyalahkan anak, tetapi memelihara situasi yang telah diciptakan. Contoh, guru tidak mengatakan “Kamu terlambat terus masuk kelas, kamu ternyata sulit menepati waktu”, tetapi akan lebih baik guru mengatakan kepada akan yang terlambat, “Bila terlambat terus, nanti akan ketinggalan pelajaran dan juga mengganggu teman-teman yang sudah belajar”.

-          Pemasabodohan terhadap pelanggaran anak
Guru bersikap masa bodoh terhadap pelanggaran yang dilakukan anak yang berprilaku menguasai, kemudian memberikan respons positif jika anak bertingkah laku positif. Bersikap masa bodoh dimaksudkan tidak membedakan respon dari prilaku anak yang ingin menguasai.

-          Pemberian tugas yang memerlukan keberanian (bagi anak yang menunjukkan tingkah laku menguasai)
Jika guru merespon justru menjadi faktor penguat bagi anak untuk bertingkah laku yang harus dihentikan.

-          Pemberian tugas yang memerlukan keberanian (bagi anak yang menunjukkan tingkah laku menguasai)
Kemudian guru dapat memberikan tugas yang bersifat memimpin, keberanian, menuntut kekuatan fisik, anak yang menunjukan tingkah laku menguasai. Merasa dipandang dan dihargai karena kekuatan dan keberaniannya, dengan demikian anak merasa puas dan tidak mencari perhatian yang bisa mengganggu proses pembelajaran. Contoh, memindahkan meja atau kursi, membagikan buku, membagikan kue pada teman-temannya.

-          Penghilangan respon, ekspresi wajah tetap wajar
Tidak memberikan respon dengan ekspresi wajah tetap wajar, merupakan tindakan guru terhadap anak yang menunjukan tingkah laku membalas dendam. Guru diharapkan dapat meminta kepada anak-anak lain agar jangan menghiraukan perilaku anak tersebut. Dengan demikian jangan menghiraukan perilaku anak tersebut. Dengan demikian anak merasa bahwa guru, maupun temannya bukanlah sasaran balas dendam, anak akan mencari sasaran lain di luar kelas.

-          Penyalahan anak secara tidak langsung dan penunjukan segi-segi keberhasilan
Bagi anak dengan tingkah laku ketidakmampuan, teknik penanggulangan yang di lakukan guru adalah dengan tidak menyalahkan anak secara langsung, melainkan menunjukan segi-segi keberhasilan anak. Guru harus menyadari bahwa anak punya potensi. Anak butuh dorongan dan kesempatan mewujudkan kemampuannya. Berikan penghargaan jika anak menunjukan suatu keberhasilan, dengan demikian anak terdorong untuk meningkatkan usahanya dalam mesujudkan kemampuannya dalam pembelajaran. Dalam permainan Kucing-Tikus, Guru menegur anak supaya tidak bermain curang.

-          Peningkatan partisipasi anak dalam beraktifitas
Dalam kegiatan bermain di bak pasir, anak dapat membuat taman yang bagus. Usaha ini dihargai Ibu guru dan berkata, “Anak-anak coba lihat yang dibuat temanmu dibak pasir, taman yang indah, baguskan tamannya ?”. Dalam hal ini partisipasi semua anak akan berhasil dengan aktifitas yang meningkat.

-          Meratakan partisipasi anak
Mendorong dan meratakan partisipasi anak dalam beraktivitas, dalam hal ini guru menyadari dalam kegiatan pembelajaran ditemui anak yang kurang berpartisipasi, dan ada pula anak yang dengan segala kemampuannya aktif berpartisipasi dalam pembelajaran. Guru perlu memberikan dorongan kepada anak yang kuran g berpartisipasi, bagi anak yang terlalu aktif berpartisipasi, guru perlu membatasi dengan cara tidak mematikan motivasi anak untuk berpartisipasi aktif. Contoh, permainan memasukan bola disenangi anak-anak. Rikki selalu berkeinginan untuk melakukan berulang-ulang dengan demikian ia memasukan bola ke keranjang sebanyak mungkin. Berbeda dengan Putri yang selalu diam, seperti tidak tertarik dengan permainan itu. Guru berkata, “ Anak-anak Ibu, yang sudah melempar bolanya berbaris dulu dibelakang, nanti bergantian melempar bola lagi setelah temannya yang belum mencoba”. Untuk Putri, sambil memegang tangannya dan menggiring ke depan guru berkata,”Sini sayang, sekarang Putri yang memasukan bola lagi, ya...” Guru membantu Putri memegang bola dan setelah Putri berhasil memasukan bola Ibu guru memberikan pujian padanya.

-          Pengurangan Ketegangan
Mengurangi ketegangan merupakan tindakan penanggulangan masalah anak yang disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan dalam kelompok yang dapat melahirkan ketegangan dalam kelas. Guru diharapkan menurunkan ketegangan bahkan menghilangkan ketegangan tersebut.

-          Penyelesaian pertentangan antar pribadi atau antar kelompok
Untuk mengatasi masalah anak yang bersumber dari pertentangan anak baik individu maupun kelompok, guru diharapkan dapat mengamati secara seksama kondisi hubungan antara anak dan berusaha mengatasi pertentangan-pertentangan. Pertentangan bisa terjadi sesaat di dalam kelas, tetapi kadang kala sudah terjadi diluar kelas sampai terbawa ke dalam kelas.

3.      Beberapa pendekatan yang dapat membantu guru dalam memecahkan masalah dalam kegiatan belajar mengajar diantaranya :
- Pendekatan individual
Memiliki arti guru melakukan pendekatan kepada masing-masing anak didik. Persoalan kesulitan belajar anak akan lebih mudah dipecahkan dengan pendekatan ini walaupun pendekatan lain juga diperlukan. Suatu contoh untuk menghentikan anak didik yang suka berbicara, dapat dipisahkan atau dipindahkan kepada tempat yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh dan ditempatkan dikelompok anak didik yang pendiam. Suatu contoh seorang anak didik didalam kelas lebih banyak berdiam diri dibanding anak lain, ketika guru melakukan pendekatan dan komunikasi dengan anak tersebut, sang anak mengungkapkan perasaan mengapa dia murung pada saat itu. Bahwa orang tua membelikan sepeda tetapi tidak diperbolehkan mengendarai sepeda dijalan umum disekitar rumahnya, dikarenakan orang tuanya khawatir sebab tidak aman baginya bersepeda dijalan umum. Sang guru mengatakan dan memberikan usulan apa keinginan anak. Kemudian sang anak memunculkan gagasannya untuk bersepeda di pelataran sekolah di sore hari pada saat tidak aktifitas di sekolah. Kesepakatan kemudian dibuat esok harinya, sang anak menuntun sepeda sampak kesekolah yang tidak jauh dari rumahnya, dan barulah ia menaiki sepeda setelah sampai di pelataran sekoalah. Hari-hari selanjutnya sang anak merasa senang dan mampu mengikuti proses belajar di sekolah dengan baik dan orang tuanyapun merasa puas, gurupun berhasil melakukan pendekatan individual dengan mengajak anak mengemukakan pendapat dengan berani.

-          Pendekatan kelompok
Pendekatan ini dilakukan dengan tujuan mengembangkan dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi kepada setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois dalam diri masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial dikelas. Anak didik diajak bekerja sama secara berkelompok sehingga mereka akan menyadari bahwa didalam diri masing-masing ada kekurangan dan kelebihan. Anak yang memiliki kelebihan akan iklas membantu anak yang memiliki kekurangan, sebaliknya anak yang memiliki kekurangan dengan rela hati mau belajar dari anak yang memiliki kelebihan, tanpa ada rasa minder. Sehingga persaingan yang positif didalam kelas akan terjadi dalam pencapaian prestasi belajar dan diharapkan anak didik menjadi lebih aktif, kreatif dan mandiri. Ketika guru menggunakan pendekatan ini harus dipertimbangkan bahwa hal ini tidak bertentangan dengan tujuan, fasilitas belajar pendukung, metode yang akan digunakan sudah dikuasai dan bahan yang diberikan kepada anak memang cocok didekati dengan pendekatan ini.

-          Pendekatan bervariasi
Permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan akan lebih tepat menggunakan pendekatan bervariasi pula. Misalnya anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahan dan pendekatannya, guru tidak boleh menggunakan tehnik pendekatan yang sama untuk memecahkan permasalahan yang lain. Kalaupun ada hanya pada kasus-kasus tertentu. Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa permesalah setiap anak didik dalam belajar bermacam-macam, dan muncul dengan berbagai motif, sehingga diperlukan pendekatan dengan teknik-teknik bervariasi untuk memecahkan setiap kasus.



-          Pendekatan edukatif
Guru yang kurang arif dan kurang bijaksana dalam menggunakan pendekatan akan merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik. Setiap tindakan, sikap dan perbuatan yang dilakukan guru harus bernilai pendidikan dengan tujuan mendidik anak, menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, sosial dan agama. Salah satu contoh ketika lonceng berbunyi, anak-anak diperintahkan untuk berbaris didepan pintu masuk, anak perempuan berbaris dalam kelompok jenisnya demikian juga anak laki-laki. Barisan yang dibentuk menjadi dua kelompok jenis, dikontrol dan diperhatikan bagaimana anak berbaris. Ketika dipersilahkan masuk, mereka satu-persatu menyalami dan mencium tangan guru sebelum dilepas. Contoh tersebut menggambarkan pendekatan edukatif dengan tujuan membina watak anak dengan pendidikan akhlak yang mulia. Guru membimbing anak, cara menghargai orang lain dengan mematuhi perintah yang bernilai kebaikan. Pendidikan kepribadian yang diberikan kepada anak sangatlah penting, jangan hanya diberikan pendidikan intelektual serta ketrampilan semata, karana akan menyebabkan anak tumbuh sebagai seorang intelektual atau ilmuwan yang berkepribadian kering. Dalam hal ini, guru yang jarang bergaul dengan anak didik akan menyebabkan anak didik apatis dan tertutup (introvert) atas apa yang dirasakannya.

4.      Berdasarkan kurikulum pendidikan agama Islam tahun 1994 disebutkan 5 (lima) macam pendekatan untuk pendidikan agama Islam, yaitu :

a) Pendekatan pengalaman
Experience is the best teacher, pengalaman adalah guru yang terbaik. Meskipun belajar dari pengalaman adalah kenyataan yang ditujukan dengan kegiatan fisik, akan tetapi tidak semua pengalaman bersifat mendidik. Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik jika guru tidak membawa anak kearah tujuan pendidikan, tetapi menyimpang dari tujuan pendidikan, misalnya “mendidik anak menjadi pencopet”. Pengalaman yang edukatif adalah suatu tujuan yang berarti bagi anak (meaning full), kontinyu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan dan menambah integrasi anak (pendapat Witherington). Sebagai contoh ketika bulan Ramadhan tiba biasanya siswa-siswi tidak ketinggalan untuk mendapatkan dan melaksanakan kegiatan pesantren kilat. Untuk TK anak-anak didik diajarkan untuk mengenal kegiatan sholat dan mengenal ajaran Islam seperti berpuasa.

b) Pendekatan Pembiasaan
Pendekatan pembiasaan dimaksudkan agar suatu aktifitas yang baik akan menjadi milik anak dikemudian hari. Anak kecil memang belum memiliki kewajiban. Menanamkan kebiasaan yang baik dan mudah kadang-kadang memakan waktu yang lama dan sangat sulit. Akan tetapi sesuatu yang menjadi kebiasaan bagi anak sukar pula untuk merubahnya. Mendidik anak jujur, belajar berpuasa, disiplin, gemar menolong orang yang kesukaran, melakukan sholat 5 waktu, dan berpartisipasi dalam kegiatan yang baik akan membuat anak mampu menjalankan kehidupan sehari-hari dengan baik. JB. Watson (1991) berpendapat bahwa reaksi-reaksi kodrati yang dibawa sejak lahir itu sedikit sekali, kemudian kebiasaan-kebiasan itu terbentuk dalam perikembangan dan karena latihan serta belajar. Bertolak dari kebiasaan pendidikan itulah maka dijadikan sebagai pendekatan pembiasaan.

c) Pendekatan Emosional
Dalam hal ini pendekatan dilakukan dengan perasaan intelektual, estetis, sosial dan harga diri. Umumnya anak-anak melaksanakan suatu kegiatan bertolak dari perasaan senang atau tidak senang, bahwa nilai perasaan bagi manusia adalah menyesuaikan diri dengan keadaan alam sekitar, ikut mengalami, menimbulkan rasa senasib dan kewajiban sebagai manusia (perasaan religius). Emosi perasaan adalah suatu yang peka, emosi akan memberikan tanggapan (respon) bila ada rangsangan (stimulus) dari diri seseorang. Misalnya cerita, sindiran, pujian, ejekan, berita, dialog, anjuran dan sebagainya. Pada anak didik TK, pendekatan emosional dilakukan dalam hal bercerita dan juga sosiodrama.
d) Pendekatan Rasional
Dengan kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana perbuatan baik dan mana perbuatan yang buruk, mana kebenaran dan mana kedustaan dari suatu perbuatan. Akan tetapi ada keterbatasan akal untuk memikirkan dan memecahkan sesuatu dan diyakini pula bahwa dengan akal dapat dicapai ketinggian ilmu pengetahuan dan penghasilan dari tekhnologi modern. Disekolah anak didik dengan berbagai ilmu pengetahuan, perkembangan berpikir anak dibimbing kearah yang lebih baik sesuai tingkat usia mulai dari yang kongkret sampai yang abstrak. Untuk mendukung pemakian pendekatan ini di TK diberikan metode mengajar antara lain tanya jawab, pemberian tugas dan latihan.

e) Pendekatan Fungsional
Ilmu pengetahuan yang dipelajari anak disekolah diharapkan dapat membentuk kepribadian dan perilaku anak, sehingga anak dapat mendayagunakan suatu ilmu dengan nilai fungsional didalam diri anak. Pelajaran yang diberikan bukan hanya memberantas kebodohan dan pengisi kekosongan intelektual, tapi untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu kurikulum sekolahpun disusun sesuai dengan kebutuhan anak didik di masyarakat. Pendekatan fungsional ini diharapkan dapat menjembatani harapan tersebut, dalam hal ini beberapa metode mengajar diantaranya pemberian tugas, latihan, tanya jawab dan demontstrasi.


Sumber referensi :


_________Fathoriq, Attalarik. 2009. Masalah Anak Dalam Pengelolaan Kelas. http://attalarik-fathoriq.blogspot.com/2009/01/masalah-anak-dalam-pengelolaan-kelas.html (Online. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2014)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Tulisan Populer

KataKata

"Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu." (Ali bin Abi Thalib)

FEMURKU. Diberdayakan oleh Blogger.