KENAKALAN INDIVIDU DAN KENAKALAN KELOMPOKTUGAS MATA KULIAH PERENCANAAN PENGAJARANBAHASA INDONESIA
Oleh
:
Ervina
Diah P. NIM.1201040003
Asri
Fiana NIM.1201040004
Fajar
Edi M. NIM.1201040006
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DAN BAHASA INDONESIAFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO2014
Kenakalan Individu
1. Mencari
Perhatian
Contoh:
-
Ketika guru sedang menerangkan,
melakukan perbuatan yang mengganggu siswa lain.
-
Melakukan hal-hal yang membuat kegaduhan
kelas
-
Pura-pura sakit
-
Pura-pura tidak mengerti sehingga sering
bertanya
2. Mencari
Kekuasaan
Contoh:
-
Suka memerintah teman yang dianggap
lemah.
-
Meminta uang kepada teman lain secara
paksa.
-
Selalu memaksakan pendapat.
-
Selalu ingin mengalahkan orang lain
-
Selalu menentang semua peraturan
3. Balas
Dendam
Contoh:
-
Sengaja untuk tidak masuk sekolah karena
tidak suka dengan salah seorang guru,
-
Membolos karena tidak diberi uang saku
lebih oleh orang tua
-
Membuat onar di lingkungan sekolah,
karena merasa diabaikan.
4. Peragaan
Ketidakmampuan
Contoh:
-
Merasa pesimis atau putus asa
-
Anak tidak mau menerima tugas dan selalu
mengatakan tidak bisa.
Kenakalan Kelompok
1. Kelas
Kurang Kohesif
Contoh:
-
Tidak melaksanakan kewajiban / tugas
yang diberikan untuk kelas,
-
Membuat geng atau kelompok kecil dengan
tujuan yang menjurus hal negatif,
-
Lemahnya hubungan antar siswa karena
perbedaan jenis kelamin, suku, dan tingkat sosial ekonomi
2. Kesebelan
Terhadap Norma yang Sudah Disampaikan
Contoh:
-
Dengan sengaja melanggar tata tertib
yang sudah ada,
-
Memakai seragam yang tidak sesusai
dengan ketentuan,
3. Kelas
Mereaksi Negatif Teman yang Salah
Contoh:
-
Menertawakan teman ketika melakukan
kesalahan,
-
Mengolok-olok apabila melihat ada salah
satu teman yang terlambat.
4. Membombong
Teman yang Melanggar Norma
Contoh:
-
Memberi semangat kepada teman yang suka
melanggar peraturan
5. Mudah
Dialihkan Perhatiannya
Contoh:
-
Ketika mengerjakan tugas lebih tertarik
kepada hal lain di luar kelas
6. Semangat
Kerja Rendah
Contoh:
-
Siswa melakukan protes kepada guru
karena tugas yang diberikan kurang adil
7. Kurang
Mampu Menyesuaikan Diri
Contoh:
-
Menunjukkan sikap tidak suka kepada guru
pengganti
Teknik Penanggulangan Masalah Anak
dalam Pengelolaan Kelas :
Teknik pengelolaan kelas dapat dikelompokkan ke dalam
teknik preventif dan kuratif. Teknik preventif adalah teknik untuk mencegah
timbulnya tingkah laku yang dapat mengganggu kegiatan pembelajaran, sedangkan
kuratif adalah tindakan korektif guru terhadap perilaku anak yang menyimpang dan merusak kondisi optimal bagi
kelangsungan aktivitas anak di dalam kelas.
Hasibuan (1994)
mengemukakan sejumlah sikap dan tindakan guru dalam masing-masing teknik di
atas, yaitu :
1.
Teknik Preventif
-
Sikap terbuka
Sikap terbuka merupakan sikap guru yang
penting untuk menunjukkan keakraban hubungannya dengan anak. Dengan suasana
keterbukaan, anak-anak merasa bebas dan leluasa mengemukakan pendapatnya serta
yakin guru selalu mendengarkan dan memperhatikan pendapatnya.
-
Sikap Menerima dan Menghargai Siswa
sebagai Manusia
Sikap tersebut berpengaruh baik juga
terhadap perkembangan anak
Sikap menerima apa adanya merupakan
pernyataan sayang, merasa diterima berarti merasa di sayang. Anak tidak akan
merasa rendah diri dan malu, karena guru memperlakukannya dengan cara yang
tidak membeda-bedakan.
-
Sikap empati
Sikap empati, upaya yang dilakukan dlam
dimensi pencegahan. Sikap empati berarti guru harus memandang anak dari sudut
pandangan siswa. Sikap empati mencegah timbulnya rasa malu dan takut pada anak,
dan dapat pula membangun keberanian anak, jika diminta untuk melakukan kegiatan
yang berhubungan dengan pembelajaran. Contoh, dalam pengembangan motorik anak
Ibu guru melatihkan mengancingkan baju
-
Sikap demokratis
Sikap demokratis, ditunjukan guru untuk
teknik pencegahan. Guru berusaha menempatkan perannya sebagai pengarah dan
pembimbing dalam proses pembelajaran. Berbicara dengan ramah, membimbing anak,
menggunakan kata-kata ajakan, menolong anak dan membagi tanggung jawab secara
bersama untuk menciptakan suasana demokratis di dalam kelas. Dalam tindakan
pengelolaan kelas anak diajarkan untuk bertanggung jawab, diperlakukan sebagai
manusia yang dapat secara bijaksana mengambil keputusan di samping memberikan
kesempatan untuk menanggung konsekuensi perbuatannya sendiri.
-
Mengarahkan anak pada tujuan kelompok
Aturan kelompok penting dilakukan guru
untuk pencegahan perilaku anak. Mengarahkan anak pada tujuan kelompok adalah
mengarahkan anak ke tujuan kelas, khususnya tujuan pengajaran. Guru perlu
merumuskan tujuan pembelajaran yang realistis, mengkomunikasikan pada anak secara
jelas.
-
Menghasilkan aturan kelompok yang
disepakati bersama
Beberapa contoh dari aturan bersama-sama
dengan anak :
·
Mengacungkan tangan sebelum bertanya
·
Mendengarkan baik-baik petunjuk guru
·
Mengikuti pengarahan yang diberikan guru
·
Menjalin kerja sama dengan teman sekelas
·
Menyelesaikan tugas-tugas tepat pada
waktunya
·
Membantu teman lain, seperti juga kamu
akan dibantu
·
Membawa buku, pensil, kertas, penghapus
dan alat-alat lainnya yang diperlukan untuk belajar
·
Menempati tempat di tempat duduk sebelum
bel berbunyi
·
Melakukan persiapan untuk pulang ke
rumah secara tertib.
-
Memperjelas komunikasi
Memperjelas komunikasi, guru diharapkan
memperjelas komunikasi yang dilakukan anak, karena tidak semua anak dapat
berkomunikasi dengan baik. Dalam hal ini guru mengulangi apa yang diucapkan
anak dengan maksud mempertegas maksud anak.
-
Menunjukan kehadiran
Menunjukan kehadiran dilakukan guru
sebagai teknik pencegahan perilaku anak yang tidak diinginkan. Guru perlu
menunjukan pada anak bahwa ia hadir di kelas, tidak secara fisik tetapi juga
mental. Guru hendaknya sadar serta tanggap terhadap perhatian anak,
keterlibatan anak sehingga diketahui anak yang acuh atau kurang berpartisipasi
dalam proses pembelajaran. Sikap guru yang demikian dirasakan anak bahwa
gurunya hadir bersama dengan mereka dan mengetahui apa yang mereka perbuat.
2.
Teknik Kuratif
Dengan
teknik kuratif guru dapat melakukan beberapa hal,
-
Penguatan negatif
Guru yang melakukan penguatan negatif
akan berusaha untuk mengurangi atau selanjutnya menghilangkan suatu stimulus
yang tidak menyenangkan, agar anak terdorong kembali untuk berperilaku yang
sama sebagai akibat dari pengurangan atau penghilangan stimulus tersebut. Contoh
Ibu guru menginginkan anak pemalu berani menyanyi ke depan, ia menunjuk
langsung anak kurang berani bernyanyi ke depan sendiri (stimulus tidak
menyenangkan), tetapi bila suatu saat anak mulai berani menyanyi ke depan tanpa
ditunjuk oleh guru, maka guru mengurangi secara berangsur-angsur cara menunjuk
langsung (penguatan negatif).
-
Penghapusan
Penghapusan dapat pula dilakukan guru
dalam menanggulangi perilaku anak yang mengganggu kegiatan belajar. Kegiatan
ini kebalikan dari penguatan, khususnya penguatan positif. Dalam penguatan
positif tingkah laku anak dipertahankan, sedangkan dalam pengahapusan, tingkah
laku anak dikurangi atau dihilangkan sama sekali. Contoh, kebiasaan menutup
mulut dengan tangan apabila menjawab pertanyaan guru. Guru mengatakan secara
langsung agar tidak menutup mulut dengan tangan bila menjawab.
-
Penghukuman
Hukuman merupakan tindakan yang dapat
diterapkan guru untuk anak berperilaku mengganggu kelancaran pembelajaran.
Pemberian hukuman secara bijaksana secara terbatas menimbulkan akibat yanbg
baik secara tepat, tetapi guru harus hati-hati mencatat akibat-akibat dari
hukuman itu. Pemberian hukuman hendaklah dihindarkan sekiranya masih ada
alternatif yang tepat untuk menghilangkan tingkah laku anak yang tidak
diinginkan, sehingga tidak menimbulkan akibat sampingan, baik terhadap anak
maupun guru. Hukuman memberikan pengaruh psikologis yang negatif pada anak.
Namun pemberian hukuman yang cocok dengan situasi dan perilaku anak, ada
kemungkinan dapat meningkatkan proses pembelajaran anak.
-
Pembicaraan situasi pelanggaran dan
bukan pelaku pelanggaran
Membicarakan situasi pelanggaran, bukan
pelaku pelanggaran. Dalam hal ini guru menghadapi masalah perilaku anak, tidak
bersikap marah atau tidak menyalahkan anak, tetapi memelihara situasi yang
telah diciptakan. Contoh, guru tidak mengatakan “Kamu terlambat terus masuk
kelas, kamu ternyata sulit menepati waktu”, tetapi akan lebih baik guru
mengatakan kepada akan yang terlambat, “Bila terlambat terus, nanti akan
ketinggalan pelajaran dan juga mengganggu teman-teman yang sudah belajar”.
-
Pemasabodohan terhadap pelanggaran anak
Guru bersikap masa bodoh terhadap
pelanggaran yang dilakukan anak yang berprilaku menguasai, kemudian memberikan
respons positif jika anak bertingkah laku positif. Bersikap masa bodoh
dimaksudkan tidak membedakan respon dari prilaku anak yang ingin menguasai.
-
Pemberian tugas yang memerlukan
keberanian (bagi anak yang menunjukkan tingkah laku menguasai)
Jika guru merespon justru menjadi faktor
penguat bagi anak untuk bertingkah laku yang harus dihentikan.
-
Pemberian tugas yang memerlukan
keberanian (bagi anak yang menunjukkan tingkah laku menguasai)
Kemudian guru dapat memberikan tugas
yang bersifat memimpin, keberanian, menuntut kekuatan fisik, anak yang
menunjukan tingkah laku menguasai. Merasa dipandang dan dihargai karena
kekuatan dan keberaniannya, dengan demikian anak merasa puas dan tidak mencari
perhatian yang bisa mengganggu proses pembelajaran. Contoh, memindahkan meja
atau kursi, membagikan buku, membagikan kue pada teman-temannya.
-
Penghilangan respon, ekspresi wajah
tetap wajar
Tidak memberikan respon dengan ekspresi
wajah tetap wajar, merupakan tindakan guru terhadap anak yang menunjukan
tingkah laku membalas dendam. Guru diharapkan dapat meminta kepada anak-anak
lain agar jangan menghiraukan perilaku anak tersebut. Dengan demikian jangan
menghiraukan perilaku anak tersebut. Dengan demikian anak merasa bahwa guru,
maupun temannya bukanlah sasaran balas dendam, anak akan mencari sasaran lain
di luar kelas.
-
Penyalahan anak secara tidak langsung
dan penunjukan segi-segi keberhasilan
Bagi anak dengan tingkah laku
ketidakmampuan, teknik penanggulangan yang di lakukan guru adalah dengan tidak
menyalahkan anak secara langsung, melainkan menunjukan segi-segi keberhasilan
anak. Guru harus menyadari bahwa anak punya potensi. Anak butuh dorongan dan
kesempatan mewujudkan kemampuannya. Berikan penghargaan jika anak menunjukan
suatu keberhasilan, dengan demikian anak terdorong untuk meningkatkan usahanya
dalam mesujudkan kemampuannya dalam pembelajaran. Dalam permainan Kucing-Tikus,
Guru menegur anak supaya tidak bermain curang.
-
Peningkatan partisipasi anak dalam
beraktifitas
Dalam kegiatan bermain di bak pasir,
anak dapat membuat taman yang bagus. Usaha ini dihargai Ibu guru dan berkata,
“Anak-anak coba lihat yang dibuat temanmu dibak pasir, taman yang indah,
baguskan tamannya ?”. Dalam hal ini partisipasi semua anak akan berhasil dengan
aktifitas yang meningkat.
-
Meratakan partisipasi anak
Mendorong dan meratakan partisipasi anak
dalam beraktivitas, dalam hal ini guru menyadari dalam kegiatan pembelajaran
ditemui anak yang kurang berpartisipasi, dan ada pula anak yang dengan segala
kemampuannya aktif berpartisipasi dalam pembelajaran. Guru perlu memberikan
dorongan kepada anak yang kuran g berpartisipasi, bagi anak yang terlalu aktif
berpartisipasi, guru perlu membatasi dengan cara tidak mematikan motivasi anak
untuk berpartisipasi aktif. Contoh, permainan memasukan bola disenangi
anak-anak. Rikki selalu berkeinginan untuk melakukan berulang-ulang dengan
demikian ia memasukan bola ke keranjang sebanyak mungkin. Berbeda dengan Putri
yang selalu diam, seperti tidak tertarik dengan permainan itu. Guru berkata, “
Anak-anak Ibu, yang sudah melempar bolanya berbaris dulu dibelakang, nanti
bergantian melempar bola lagi setelah temannya yang belum mencoba”. Untuk
Putri, sambil memegang tangannya dan menggiring ke depan guru berkata,”Sini
sayang, sekarang Putri yang memasukan bola lagi, ya...” Guru membantu Putri
memegang bola dan setelah Putri berhasil memasukan bola Ibu guru memberikan
pujian padanya.
-
Pengurangan Ketegangan
Mengurangi ketegangan merupakan tindakan
penanggulangan masalah anak yang disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan
dalam kelompok yang dapat melahirkan ketegangan dalam kelas. Guru diharapkan
menurunkan ketegangan bahkan menghilangkan ketegangan tersebut.
-
Penyelesaian pertentangan antar pribadi
atau antar kelompok
Untuk mengatasi masalah anak yang
bersumber dari pertentangan anak baik individu maupun kelompok, guru diharapkan
dapat mengamati secara seksama kondisi hubungan antara anak dan berusaha
mengatasi pertentangan-pertentangan. Pertentangan bisa terjadi sesaat di dalam
kelas, tetapi kadang kala sudah terjadi diluar kelas sampai terbawa ke dalam
kelas.
3.
Beberapa pendekatan yang dapat membantu
guru dalam memecahkan masalah dalam kegiatan belajar mengajar diantaranya :
-
Pendekatan individual
Memiliki arti guru melakukan pendekatan
kepada masing-masing anak didik. Persoalan kesulitan belajar anak akan lebih
mudah dipecahkan dengan pendekatan ini walaupun pendekatan lain juga
diperlukan. Suatu contoh untuk menghentikan anak didik yang suka berbicara,
dapat dipisahkan atau dipindahkan kepada tempat yang terpisah dengan jarak yang
cukup jauh dan ditempatkan dikelompok anak didik yang pendiam. Suatu contoh
seorang anak didik didalam kelas lebih banyak berdiam diri dibanding anak lain,
ketika guru melakukan pendekatan dan komunikasi dengan anak tersebut, sang anak
mengungkapkan perasaan mengapa dia murung pada saat itu. Bahwa orang tua
membelikan sepeda tetapi tidak diperbolehkan mengendarai sepeda dijalan umum disekitar
rumahnya, dikarenakan orang tuanya khawatir sebab tidak aman baginya bersepeda
dijalan umum. Sang guru mengatakan dan memberikan usulan apa keinginan anak.
Kemudian sang anak memunculkan gagasannya untuk bersepeda di pelataran sekolah
di sore hari pada saat tidak aktifitas di sekolah. Kesepakatan kemudian dibuat
esok harinya, sang anak menuntun sepeda sampak kesekolah yang tidak jauh dari
rumahnya, dan barulah ia menaiki sepeda setelah sampai di pelataran sekoalah.
Hari-hari selanjutnya sang anak merasa senang dan mampu mengikuti proses
belajar di sekolah dengan baik dan orang tuanyapun merasa puas, gurupun
berhasil melakukan pendekatan individual dengan mengajak anak mengemukakan
pendapat dengan berani.
-
Pendekatan kelompok
Pendekatan ini dilakukan dengan tujuan
mengembangkan dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi kepada setiap anak didik.
Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois dalam diri masing-masing, sehingga
terbina sikap kesetiakawanan sosial dikelas. Anak didik diajak bekerja sama
secara berkelompok sehingga mereka akan menyadari bahwa didalam diri
masing-masing ada kekurangan dan kelebihan. Anak yang memiliki kelebihan akan
iklas membantu anak yang memiliki kekurangan, sebaliknya anak yang memiliki
kekurangan dengan rela hati mau belajar dari anak yang memiliki kelebihan,
tanpa ada rasa minder. Sehingga persaingan yang positif didalam kelas akan
terjadi dalam pencapaian prestasi belajar dan diharapkan anak didik menjadi
lebih aktif, kreatif dan mandiri. Ketika guru menggunakan pendekatan ini harus
dipertimbangkan bahwa hal ini tidak bertentangan dengan tujuan, fasilitas
belajar pendukung, metode yang akan digunakan sudah dikuasai dan bahan yang
diberikan kepada anak memang cocok didekati dengan pendekatan ini.
-
Pendekatan bervariasi
Permasalahan yang dihadapi oleh setiap
anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan akan lebih tepat
menggunakan pendekatan bervariasi pula. Misalnya anak didik yang tidak disiplin
dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahan dan pendekatannya,
guru tidak boleh menggunakan tehnik pendekatan yang sama untuk memecahkan
permasalahan yang lain. Kalaupun ada hanya pada kasus-kasus tertentu.
Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa permesalah setiap anak didik
dalam belajar bermacam-macam, dan muncul dengan berbagai motif, sehingga
diperlukan pendekatan dengan teknik-teknik bervariasi untuk memecahkan setiap
kasus.
-
Pendekatan edukatif
Guru yang kurang arif dan kurang
bijaksana dalam menggunakan pendekatan akan merugikan pertumbuhan dan
perkembangan kepribadian anak didik. Setiap tindakan, sikap dan perbuatan yang
dilakukan guru harus bernilai pendidikan dengan tujuan mendidik anak,
menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, sosial dan agama. Salah satu
contoh ketika lonceng berbunyi, anak-anak diperintahkan untuk berbaris didepan
pintu masuk, anak perempuan berbaris dalam kelompok jenisnya demikian juga anak
laki-laki. Barisan yang dibentuk menjadi dua kelompok jenis, dikontrol dan
diperhatikan bagaimana anak berbaris. Ketika dipersilahkan masuk, mereka
satu-persatu menyalami dan mencium tangan guru sebelum dilepas. Contoh tersebut
menggambarkan pendekatan edukatif dengan tujuan membina watak anak dengan
pendidikan akhlak yang mulia. Guru membimbing anak, cara menghargai orang lain
dengan mematuhi perintah yang bernilai kebaikan. Pendidikan kepribadian yang
diberikan kepada anak sangatlah penting, jangan hanya diberikan pendidikan
intelektual serta ketrampilan semata, karana akan menyebabkan anak tumbuh
sebagai seorang intelektual atau ilmuwan yang berkepribadian kering. Dalam hal
ini, guru yang jarang bergaul dengan anak didik akan menyebabkan anak didik
apatis dan tertutup (introvert) atas apa yang dirasakannya.
4.
Berdasarkan kurikulum pendidikan agama
Islam tahun 1994 disebutkan 5 (lima) macam pendekatan untuk pendidikan agama
Islam, yaitu :
a) Pendekatan pengalaman
Experience is the best teacher,
pengalaman adalah guru yang terbaik. Meskipun belajar dari pengalaman adalah
kenyataan yang ditujukan dengan kegiatan fisik, akan tetapi tidak semua
pengalaman bersifat mendidik. Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik jika
guru tidak membawa anak kearah tujuan pendidikan, tetapi menyimpang dari tujuan
pendidikan, misalnya “mendidik anak menjadi pencopet”. Pengalaman yang edukatif
adalah suatu tujuan yang berarti bagi anak (meaning full), kontinyu dengan
kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan dan menambah integrasi anak
(pendapat Witherington). Sebagai contoh ketika bulan Ramadhan tiba biasanya
siswa-siswi tidak ketinggalan untuk mendapatkan dan melaksanakan kegiatan
pesantren kilat. Untuk TK anak-anak didik diajarkan untuk mengenal kegiatan
sholat dan mengenal ajaran Islam seperti berpuasa.
b) Pendekatan Pembiasaan
Pendekatan pembiasaan dimaksudkan agar
suatu aktifitas yang baik akan menjadi milik anak dikemudian hari. Anak kecil
memang belum memiliki kewajiban. Menanamkan kebiasaan yang baik dan mudah
kadang-kadang memakan waktu yang lama dan sangat sulit. Akan tetapi sesuatu
yang menjadi kebiasaan bagi anak sukar pula untuk merubahnya. Mendidik anak
jujur, belajar berpuasa, disiplin, gemar menolong orang yang kesukaran,
melakukan sholat 5 waktu, dan berpartisipasi dalam kegiatan yang baik akan
membuat anak mampu menjalankan kehidupan sehari-hari dengan baik. JB. Watson (1991)
berpendapat bahwa reaksi-reaksi kodrati yang dibawa sejak lahir itu sedikit
sekali, kemudian kebiasaan-kebiasan itu terbentuk dalam perikembangan dan
karena latihan serta belajar. Bertolak dari kebiasaan pendidikan itulah maka
dijadikan sebagai pendekatan pembiasaan.
c) Pendekatan Emosional
Dalam hal ini pendekatan dilakukan
dengan perasaan intelektual, estetis, sosial dan harga diri. Umumnya anak-anak
melaksanakan suatu kegiatan bertolak dari perasaan senang atau tidak senang,
bahwa nilai perasaan bagi manusia adalah menyesuaikan diri dengan keadaan alam
sekitar, ikut mengalami, menimbulkan rasa senasib dan kewajiban sebagai manusia
(perasaan religius). Emosi perasaan adalah suatu yang peka, emosi akan
memberikan tanggapan (respon) bila ada rangsangan (stimulus) dari diri
seseorang. Misalnya cerita, sindiran, pujian, ejekan, berita, dialog, anjuran
dan sebagainya. Pada anak didik TK, pendekatan emosional dilakukan dalam hal
bercerita dan juga sosiodrama.
d) Pendekatan Rasional
Dengan kekuatan akalnya manusia dapat
membedakan mana perbuatan baik dan mana perbuatan yang buruk, mana kebenaran
dan mana kedustaan dari suatu perbuatan. Akan tetapi ada keterbatasan akal
untuk memikirkan dan memecahkan sesuatu dan diyakini pula bahwa dengan akal
dapat dicapai ketinggian ilmu pengetahuan dan penghasilan dari tekhnologi
modern. Disekolah anak didik dengan berbagai ilmu pengetahuan, perkembangan
berpikir anak dibimbing kearah yang lebih baik sesuai tingkat usia mulai dari
yang kongkret sampai yang abstrak. Untuk mendukung pemakian pendekatan ini di
TK diberikan metode mengajar antara lain tanya jawab, pemberian tugas dan
latihan.
e) Pendekatan Fungsional
Ilmu pengetahuan yang dipelajari anak
disekolah diharapkan dapat membentuk kepribadian dan perilaku anak, sehingga
anak dapat mendayagunakan suatu ilmu dengan nilai fungsional didalam diri anak.
Pelajaran yang diberikan bukan hanya memberantas kebodohan dan pengisi
kekosongan intelektual, tapi untuk diimplementasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Karena itu kurikulum sekolahpun disusun sesuai dengan kebutuhan
anak didik di masyarakat. Pendekatan fungsional ini diharapkan dapat
menjembatani harapan tersebut, dalam hal ini beberapa metode mengajar
diantaranya pemberian tugas, latihan, tanya jawab dan demontstrasi.
Sumber referensi :
_________Fathoriq, Attalarik. 2009.
Masalah Anak Dalam Pengelolaan Kelas.
http://attalarik-fathoriq.blogspot.com/2009/01/masalah-anak-dalam-pengelolaan-kelas.html
(Online. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2014)

0 komentar:
Posting Komentar