Penumpang Gerbong Keempat yang Selamat dari Kecelakaan KA Bengawan
Gadis Penuntun Itu Tinggalkan Ayah Ibu Buta
Musibah KA Senja Bengawan yang anjlok di Cilongok, Banyumas, Senin malam menyisakan duka mendalam bagi para penumpang yang rata-rata berasal dari kalangan menengah ke bawah. Inilah kisah sebagian di antara mereka.
DENI NURINDRAGANI, Solo
Pasangan tunanetra Chaeruddin, 26, dan Tri Wahyutri, 30, adalah suami istri yang selamat sekaligus sangat terpukul dalam kecelakaan KA Senja Bengawan kemarin. Selain keinginan mereka untuk kembali menjadi tukang pijat di Tangerang, Provinsi Banten, batal, kecelakaan itu merenggut putri semata wayangnya, Diana Evika Kurniawati, 3.
Saat Chaeruddin dan istrinya yang terluka kemarin dirawat di RS Islam Purwokerto, jasad Diana dibawa pulang untuk dimakamkan di desa neneknya, Dukuh Gebang, Desa Cokro, Kecamatan Tulung, Klaten.
Bukan hanya kedua orang tuanya yang shock atas kepergian Diana. Saat tiba di desanya, beberapa anggota keluarga, termasuk sang nenek, Juminah, 50, beberapa kali pingsan. "Saya sudah punya firasat sejak mengantarkan mereka ke stasiun," kata Wiji Marjo Diharjo, 60, kakek Diana.
Menurut Wiji, sejak di Stasiun Delanggu, Klaten, sang cucu seperti tidak mau dibawa orang tuanya kembali ke Tangerang. "Dia terus-menerus memeluk saya, seperti tidak mau dilepaskan. Saya sudah merasa tidak enak saat itu," kenangnya.
Menurut Wiji, jika kepergian Diana menyebabkan anak dan menantunya, Chaeruddin dan Wahyutri, sangat shock, dirinya bisa memahami. Meski masih balita, Diana yang lahir normal (tak seperti kedua orang tuanya, dia bisa melihat) selama ini sering menuntun ayah ibunya jika ada urusan apa-apa di rumah. Bahkan, jika ada urusan memijat sekalipun.
"Selama ini Diana-lah yang menuntun kedua orang tuanya ke mana-mana di Tangerang," ujar Wiji.
Menurut dia, sebenarnya Chaeruddin dan Wahyutri yang pulang ke kampung halaman sejak Lebaran 2006 sudah tidak ingin kembali lagi ke Tangerang. Kedua pasangan itu berencana merintis usaha pijat profesional di desanya. Apalagi, Diana sudah kerasan tinggal bersama kakek-nenek dan keluarga besarnya di desa.
"Majikan panti pijat di Tangerang berkali-kali memaksa agar kembali ke Tangerang. Katanya, Chaeruddin dan Tri sering dicari-cari pelanggan," tuturnya.
Sepulang dari mengantar anak dan cucunya itu, Wiji pulang dengan mengendarai sepeda angin. Di tengah perjalanan, senter yang dibawanya hilang. "Saya terpaksa jalan dalam gelap. Sampai di pertigaan Dukuh Cokrokembang, saya diserempet sepeda motor. Tangan kanan saya terluka," katanya.
Kejadian itu ternyata sebuah firasat. Sebab, malamnya kereta yang ditumpangi anaknya anjlok saat berada di Rancamaya, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.
Menurut cerita penumpang lain di KA Senja Bengawan, saat itu keluarga Chaeruddin tidak mendapat tempat duduk di gerbong 4 sehingga duduk bergerombol di lorong garbong. Agar tetap nyaman, Diana yang tubuhnya kecil duduk di tumpukan barang-barang di kereta yang penuh sesak.
Persis pada tengah malam yang nahas itu, Diana tertidur. Chaeruddin dan Wahyutri yang buta tersebut tak menyadari kereta mereka jatuh ke sungai di bawah rel dengan ketinggian tujuh meter. Di tengah suasana panik di malam yang gelap itu, Chaeruddin dan Wahyutri tidak mendengar suara anaknya. Diana ternyata tertidur selamanya. Jasadnya ditemukan di sebelah Bripka Sugianto. Keduanya diduga tertimpuk barang-barang penumpang.
***
Beberapa korban lain di gerbong 4 punya banyak kisah bagaimana bisa selamat dalam musibah itu. Contohnya Teddy yang ditemui beberapa jam setelah kejadian.
Sorot mata Teddy tampak kosong. Saat ditemui Radar Banyumas, laki-laki itu mengaku masih shock karena kejadian yang dialaminya. Bersama mereka yang selamat, Teddy memilih untuk tidak ikut dalam rombongan mobil jemputan yang akan membawa mereka ke rumah sakit.
"Biarlah yang terluka parah dulu, kami tak usah dipikirkan karena masih kuat," kata Teddy.
Teddy adalah salah seorang di antara 100 lebih penumpang yang ikut KA Seja Bengawan di gerbong nomor 4 yang anjlok ke Sungai Pager. Laki-laki asal Kebumen itu beruntung. Sebab, begitu melihat percikan api, dia langsung berlari ke arah gerbong nomor lima. "Sejak dari Gombong, saya sudah merasa ada yang tidak beres pada kereta. Berulang-ulang kereta tak kuat saat menanjak dan berbunyi krek… krek...," ujarnya.
Detik-detik bagaimana dia bisa selamat, kata Teddy, tidak akan pernah terlupakan. Saat kereta terus bergoyang, dia berusaha berlari ke gerbong lain yang saat itu penuh sesak. Saat sampai di gerbong nomor 5, suara benturan keras terdengar. Setelah itu, tiba-tiba gerbong sudah jatuh. Keheningan di lokasi sungai pun berubah menjadi irama tangis dan rintihan kesakitan.
Ratusan penumpang di gerbong nomor 5 dan 6, kata dia, berusaha keluar dari gerbong karena takut anjlok lebih dalam. Untuk menyelamatkan diri, penumpang memecah kaca kereta dan keluar dengan melompat di atas sawah. "Yang anak-anak dan yang sudah sepuh hanya pasrah," katanya.
Mereka yang sudah berhasil keluar dari gerbong dan memanjat tebing untuk bisa sampai ke jalan aspal. Ratusan penumpang di gerbong 4 satu per satu bergerak dari jepitan-jepitan besi di gerbong yang ringsek. Beberapa penumpang yang masih kuat memapah korban yang sudah tak berdaya.
"Sambil menunggu bantuan, korban yang parah dibiarkan di dekat sungai karena tidak mungkin dibawa ke atas," tutur Parwoto, 30, penumpang di gerbong 5. Dia sendiri harus berjuang membantu penumpang-penumpang yang sudah berusia lanjut melewati pematang sawah agar bisa sampai ke jalan aspal.
Pengalaman yang tak terlupakan juga dialami Febri Andri, 13, penumpang gerbong 4 yang ikut KA Senja Bengawan dari Stasiun Klaten. Febri yang ketika itu sudah melihat gelagat buruk kereta saat akan menyeberang jembatan berusaha lari ke gerbong di belakangnya. Dia berlomba dengan kecepatan kereta dan sesaknya penumpang di gerbong empat.
Sial, saat kereta anjlok, dia masih berada di dalamnya. Febri merasakan tubuhnya terimpit besi. Dalam kepanikan itu, dia terus berdoa dan berusaha melepaskan impitan sehingga akhirnya terlepas. Sebelum keluar, Febri sempat menyelamatkan sorang penumpang. "Dia nenek-nenek. Saya bopong keluar setelah kaca kereta saya pecah," katanya. (Dilengkapi laporan Angga Saputra dari Banyumas)
Sumber : rumah-sakinah.blogspot.com
Sumber : rumah-sakinah.blogspot.com
0 komentar:
Posting Komentar